Dari Singkawang Hingga Bangka Belitong (1)

Ini adalah latar belakang tumbuh dan berkembangnya minat saya pada dunia pendidikan. Saya akan membaginya dalam dua atau tiga posting. Semula saya berencana meng-update blog ini bulan depan atau tahun depan. Tapi rasanya tangan gatal juga mengetik kalau sudah di depan komputer. Untuk keseluruhan posting berikutnya saya akan mengubah kata ganti aku menjadi saya. Alasannya mungkin sederhana saja: lebih enak didengar, menurut saya. Okay, here we go….

***

Saya dibesarkan di Kota Amoi, Singkawang. Dari TK hingga SMP saya berada di sana. Semasa berada di sana, ibu saya menjadi guru pada sebuah TK swasta, TK Flora. Karena di sana banyak sekali orang keturunan Tionghoa yang tak bisa berbahasa Indonesia, maka ibu saya cukup menguasai bahasa Kek yang dipergunakan orang-orang di sana — lain dengan bahasa Mandarin. Ibu saya kerap menggunakan bahasa Kek saat mengajar di kelas.

Saya tak bisa — tak cukup menguasai — bahasa itu karena saya bersekolah di mana bahasa Kek tidak terlalu kerap dipergunakan. Saya hanya bisa makian dalam bahasa Kek saja karena waktu kecil hingga remaja saya suka memaki-maki orang. Saya rasa tak perlulah makian-makian khas Kek ditulis di sini. Sekarang sudah tobat.

Pengabdian ibu saya pada dunia pendidikan, itulah pertama-tama yang menggugah minat saya. Kelihatannya dia tampak senang menjadi guru. Murid-muridnya, yang hampir semua bermata sipit, sangat menghormatinya. Tas ibu saya kerap dibawakan ketika masuk sekolah oleh anak didik, kehadirannya membuat beberapa anak menghambur sesaat dari kerumunan yang mereka buat sebelum bel masuk kelas berbunyi. Bahkan rasa hormat dari para orang tua murid cukup besar sehingga membuat saya berpikir: enak juga jadi guru.

Selain sekolah itu, saya juga menjadi anggota dari Gereja Protestan Kristus Mulia (GPKM). Saya menjadi ketua remaja di gereja itu. Kami beribadah di panti asuhan di samping-belakang Hotel Mahkota yang terkenal karena belum memiliki gedung sendiri. Kami diijinkan beribadah di sana karena beberapa majelis gereja juga menjadi pengurus yayasan yang mengelola panti itu.

Anak-anak panti asuhan itu memang tampak asing bagi kami, para warga gereja. Mereka rata-rata pemalu dan susah didekati. Hanya di dalam kesempatan seperti Natal atau Paskah kami beribadah bersama. Selain kedua momen itu, mereka beribadah di gerejanya masing-masing yang saya tak ketahui di mana saja. Saya hanya memperhatikan kehidupan mereka dari jauh. Kebanyakan dari mereka orang Dayak. Saya mendengar beberapa kisah tentang mereka yang kadang cukup memprihatinkan.

Tamat SMP saya memutuskan untuk melanjutkan SMA di Semarang. Pertimbangannya karena bapak saya yang menjadi pegawai di Badan Pertanahan Nasional sudah mengajukan pindah ke Jawa. Bapak saya memiliki 10 saudara dan kebanyakan saudara ingin agar bapak pindah ke Jawa agar dapat kembali bersama. Daripada pindah dan kemudian menyesuaikan lagi dengan suasana baru (menjadi murid baru) di Jawa, lebih baik saya mendahului, itulah yang saya pikirkan. Akhirnya pada tahun 1995 saya masuk ke SMU Negeri 6 Semarang dan tinggal bersama nenek saya, ibu dari ibu saya.

Selama SMU saya tak banyak tertarik dengan pendidikan. Saya menekuni hobi yang sejak SMP sudah saya kembangkan: bermusik. Saya mempunyai tiga grup band: 1) Flatus (tahu kan kalau artinya jorok; itulah nama cetusan anak-anak pemaki), grup band yang saya bentuk dengan teman-teman saya sekampung di Randusari, Semarang; 2) Visioner, grup band dengan teman-teman sekelas waktu kelas 2 SMU; dan 3) Neo-Six, grup band sekolah yang anggotanya diambil dari berbagai-bagai kelas lewat pemilihan yang selektif. Hampir setiap hari yang dikerjakan main gitar (walaupun menurut saya hingga kini saya masih tak lihai-lihai bermain). Ke studio musik bisa dua hingga tiga kali seminggu selain berlatih di studio sekolah yang peralatannya agak minim. Festival-festival kami ikuti, dan beberapa di antaranya kami jadi pemenang.

Dua tahun kemudian orang tua dan saudara-saudara saya menyusul pindah ke Jawa. Namun, bapak saya ditempatkan di Surabaya. Saudara kami (kakak ayah saya dan keluarganya) ada yang tinggal di Malang pada waktu itu, bahkan hingga kini. Karena salah satu rumah mereka tidak ditempati maka akhirnya kami mendiaminya. Lagipula, jarak Malang-Surabaya tak terlalu jauh dan setahu saya banyak pegawai yang bekerja di Surabaya dan bertempat tinggal di Malang. (Bersambung)

Leave a Reply