Berkarya di Kehidupan tak Berpenghujung

Seorang teman di sebuah milis kepenulisan menulis kepada saya: "bagaimana menghadapi kegagalan dan tulisan yang ditolak?" Ia kemudian menyatakan bahwa dirinya akan frustasi jikalau selama beberapa tahun hanya mampu menulisi diari saja dan karya-karyanya yang lain tak terpublikasikan secara luas. Sebenarnya saya sudah menuangkan apa yang menurut saya baik untuk dilakukan tentang hal ini dalam artikel berjudul "Ketika Tulisan tak Layak Muat dan Kalah Lomba", tapi ketika merenungi pertanyaan ini lagi, saya tergerak untuk menuliskan beberapa hal yang saya rasa cukup penting. Inilah jawaban saya, yang saya beri judul "Berkarya di Kehidupan tak Berpenghujung".

***

"berkarya di kehidupan tak berpenghujung"

tulisan yang tak layak muat/terbit memang membuat frustasi. saya sendiri mengalaminya puluhan kali. tulisan yang dianggap tak layak muat oleh suatu media pernah saya ubah jadi lebih baik, oper ke media lain, tapi tetap saja tak layak muat, oper lagi, dan seterusnya sampai berkali-kali, hingga akhirnya saya simpan sampai saat ini. saya rasa banyak penulis yang juga mengalami hal ini. tapi saya yakin bahwa setiap orang yang mau berhasil perlu kegigihan untuk terus mencoba. yang perlu ditambahkan dalam kegigihan itu adalah kerendahan hati untuk mau belajar.

kegigihan untuk terus mencoba, plus kesediaan untuk belajar ini, menurut saya akan terus dilakukan oleh orang yang memiliki cinta akan sesuatu. bila kita menjadikan uang dan/atau pengakuan orang lain sebagai dasar utama dalam membangun dunia kepenulisan, kita akan kecewa. karena itu sebelum terjun lebih jauh menekuni sesuatu, saya selalu bertanya pada diri sendiri: apakah dasar yang terutama dalam penekunan ini? kalau jawabannya uang, keterkenalan, atau cewek cantik, saya memutuskan untuk tak menekuninya lebih jauh. ya, kita perlu dasar yang kuat untuk menangkal setiap bentuk kegagalan yang bakal kita terima di kemudian hari.

karena kegagalan dan penolakan berkali-kali, mungkin ada orang yang memutuskan untuk menerbitkan sendiri karyanya. hal ini juga dapat didukung anggapan bahwa penerbit bisa saja salah menilai naskah yang sebenarnya bagus, selain bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar. di indonesia, menerbitkan buku sekarang sudah jauh lebih mudah daripada dulu. kita tak perlu memiliki surat izin pendirian usaha penerbitan, tapi cukup mendaftar di perpustakaan nasional untuk mendapatkan isbn dengan membayar 20-30 ribu perak. ini sah-sah saja, walau dengan cara demikian semestinya tak lantas membuat penulis mengabaikan kualitas karyanya karena tak dihadapkan pada penilaian beberapa orang (baca: penerbit/redaktur) yang bolehlah kita asumsikan sebagai pihak yang dapat menilai baik-buruknya sebuah karya, terlepas dari kekeliruan yang saya sebut tadi: bahwa mereka, sebagai manusia, dapat salah menilai tak bagus sebuah naskah yang sebenarnya bagus.

kembali pada soal ketekunan.

setahu saya, orang-orang yang bertekun untuk mencoba dan belajar di dalam segala sesuatu, kemampuan (skill) mereka akan terlatih. adalah xenophanes, kalau tidak salah, yang gagap dalam bertutur kata, tapi sangat ingin jadi orator. ia pun kemudian memasukkan pasir-pasir di pantai ke dalam mulutnya dan mulai berlatih berkata-kata. syukurlah ia berhasil menghalau kegagapannya dan kemudian menjadi orator ulung. ini membuktikan bahwa semua orang (yang waras) dapat meningkatkan kemampuan atau skill-nya selama ia mencintai apa yang ia tekuni. dan, saya senang dengan kata-kata dari john ruskin yang menyatakan: "when love and skill work together, expect masterpiece."

banyak orang yang terpanggil, tapi sedikit yang setia. sedikit orang yang berkesetiaan seperti kafka, yang selama hidup tak sempat melihat karyanya terpajang di rak-rak toko-toko buku. tapi, saya kerap merenung: apakah kafka telah "mati"? bukankah kita semua hidup dalam kehidupan tak berpenghujung?

bagi saya, ketika kalah dalam sebuah lomba, naskah dinyatakan tak layak muat/terbit, akan membuat saya terus berjuang untuk menghasilkan karya yang lebih baik. visioner manapun akan bersikap seperti demikian. mereka tahu bahwa sekalipun mereka mati dan tak diakui dunia sebagai penulis hebat, misalnya, mereka mati dengan cara terhormat. karena apa? mereka mati saat mereka terus berjuang menjadi lebih baik; bukan mati setelah memutuskan berhenti berjuang akibat kegagalan yang bertubi-tubi.

beberapa orang yang saya kenal menganggap pemikiran ini terlalu naif atau nyinyir. tapi sejauh ini saya tetap bersiteguh dengan pandangan ini. saya sengaja mengaitkan kepenulisan dengan hidup-mati karena bagi kita yang mau serius menulis, persoalan ini bukan sekedar upaya mengisi waktu luang atau terapi psikologis dalam upaya aktualisasi diri. ya, ini persoalan hidup dan mati! ada tugas untuk mencerdaskan orang lain; untuk memberi sentuhan rohani bagi pembaca kita lewat setiap kata yang kita tuangkan dalam upaya memaknai hidup.

akhirnya, selama hidup, hingga kita mati, jikalau kita tahu bahwa kita terpanggil sebagai penulis, setiakah kita akan panggilan itu? semoga. ya, semoga kita setia, karena saya yakin: sesungguhnya ada ganjaran yang pantas bagi kesetiaan dan kegigihan yang akan kita terima dalam kehidupan tak berpenghujung ini.

demikian penjelasan saya yang mungkin agak panjang-lebar. semoga berkenan. saya menulis semua ini di pergantian malam, ketika relung hati saya merenung-renung mencari dan memberi makna dalam setiap butir perjuangan yang sedang ditempuh.

salam,
~s.n~

p.s.:

kalau sempat, saya anjurkan, baca buku andrias harefa berjudul "agar menulis-mengarang bisa gampang". di salah satu bagian buku itu dikisahkan beberapa orang yang mengalami kegagalan berkali-kali dalam berpublikasi, namun tetap gigih.

One Response to “Berkarya di Kehidupan tak Berpenghujung”

  1. Andrew Says:

    To be able to do something is easy; but to do it consistently without ceasing and to become a man of character, it requires a lifetime…

Leave a Reply