Sejarah: Penting walau Kian Terisisih

Mata pelajaran Sejarah tampaknya mulai dipandang remeh oleh para siswa SMA di Jakarta. Pasalnya, pelajaran ini tak turut diujikan dalam Ujian Nasional (UN). Begitulah yang terlapor di Kompas Kamis, 1 Maret 2007, sebagai hasil pertemuan guru-guru Sejarah beberapa SMA di Jakarta yang diprakarsai Onghokham Institute dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Secara logis UN mau tak mau tak mau membuat siswa menyusun prioritas. Bukan hanya Sejarah, pelajaran-pelajaran lain di luar yang diujikan dalam UN yang mengujikan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika, rasanya juga akan turut tersisihkan. Alih-alih menuding UN sebagai biang penyisihan, perlu juga dipertanyakan: pembelajaran Sejarah itu sendiri, selama ini, sudahkah segenap prosesnya benar-benar dianggap dan dijalankan dengan penghargaan yang semestinya oleh guru dan murid?

Pentingnya Sejarah

Sejarah adalah salah satu ilmu tertua. Para filsuf sebelum Masehi mempelajari Sejarah — yang kemudian diikuti Politik — setelah Astronomi dan ilmu-ilmu alam. Kata "sejarah" berasal dari kata Arab "šajaratun" yang artinya pohon. Pohon dalam konteks ini tertuang pada metodologi ilmu Sejarah ketika menjabarkan atau merekamkan sebuah riwayat, yang lazim disebut historiografi. Historiografi, yang awalnya hanya sebatas penulisan sejarah para raja, cakupannya kemudian berkembang luas hingga merambah ke tataran budaya, tradisi, kehidupan sosial atau ekonomi suatu masyarakat. Ini menyebabkan Sejarah kerap disebut sebagai ibu dari ilmu-ilmu sosial lainnya.

E.H. Carr, dalam bukunya bejudul "What is History" menyatakan bahwa sejarah adalah suatu dialog yang tidak berkesudahan antara masa sekarang dengan masa lampau. Pentingnya mendialogkan masa kini dan masa lalulah yang disadari benar oleh Bung Karno hingga beliau suatu ketika pernah berpesan agar rakyat jangan melupakan sejarah. Ya, kita akrab dengan singkatannya: "Jasmerah". Singkatan ini, pada mula ia dicetuskan, benar-benar meresap dalam lubuk nurani rakyat karena jiwa nasionalis yang masih kuat pada saat itu.

Sebuah bangsa dapat maju dan berkembang bila tak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama di masa lampau. Bahkan, dalam tataran individu sejarah memungkinkan seseorang untuk belajar dari orang-orang di masa silam saat baginya, di masa kini (mungkin) tak ada lagi orang yang bisa dijadikan pelajaran.

Peluang dan Tantangan Bagi Guru

Ketidakmunculan Sejarah dalam UN (hanya dalam Ujian Akhir Sekolah, atau UAS) tak lantas membuatnya kian tersisih. Hal ini semestinya justru membuat para guru Sejarah menyadari adanya kesempatan berharga yang dapat diberikan dalam proses belajar-mengajar. UAS yang sifatnya otonom akan memberi peluang besar bagi guru untuk memainkan perannya dalam penyampaian materi Sejarah di dalam kelas. Pembelajaran sejarah jadi lebih variatif dan inovatif: tak melulu menghapal nama kejadian, tempat, orang, tahun dan/atau peristiwa penting.

Pembelajaran Sejarah bisa jadi amat menarik karena dapat disampaikan dengan kegiatan-kegiatan kunjungan ke wilayah-wilayah bersejarah, atau museum, misalnya. Tak hanya itu, di dalam kelas pun Sejarah dapat menjadi pelajaran yang motivatif dan berpesan moral tinggi. Nilai-nilai penting yang dapat digali dari ulah seorang diktator — Hitler misalnya — dapat menjadi inspirasi berharga agar siswa tak suka menguasai orang lain. Siswa dapat diinspirasi agar tak mudah menyerah ketika dituturi kisah hidup Abraham Lincoln, misalnya.

Tentu, pembelajaran variatif nan inovatif tersebut menjadi milik para guru yang suka belajar. Guru dituntut untuk tahu dan menguasai lebih banyak, juga merenung lebih banyak. Guru tak lagi tampil sebagai orang yang lebih menguasai materi semalam lebih dulu daripada siswa. Guru yang mengeluhkan siswanya bosan mempelajari Sejarah juga perlu berkaca: apakah selama ini ia tak bosan dalam menggali pesona sejarah? Ketika menyadari hal ini, niscaya guru dapat memainkan perannya yang mulia menjadi sosok yang reflektif dan bijak dalam menjadi penerjemah sejarah di tengah-tengah generasi muda yang kian kehilangan arah.
 

One Response to “Sejarah: Penting walau Kian Terisisih”

  1. Andrew Says:

    Sekedar tambahan… Kalo dari sisi kita sebagai hamba TUHAN, sejarah juga penting dalam kaitannya untuk membantu kita mempelajari Firman TUHAN. Banyak hamba TUHAN yang kotbahnya suka ngawur alias keluar konteks karena mereka ngga pernah sediakan waktu untuk mempelajari latar belakang sejarah dari penulisan kitab-2 yang terkait.

    Walaupun aku bukan sejarawan seperti dikau bro, tapi aku sendiri menyadari betapa pentingnya sejarah. :) Jbu…

Leave a Reply