Archive for October, 2007

Segera Memulai!

Saturday, October 13th, 2007

Finding Forrester, sebuah film yang berawal dari kecintaan terhadap dunia perbukuan dan kepenulisan, mengajarkan kepada saya bagaimana caranya memulai sesuatu.

William Forreseter dalam film ini adalah seorang pemenang penghargaan sastra tertinggi di Amerika: Pulitzer. Namun, ia menghilang dan menyendiri setelahnya. Sampai suatu ketika seorang pemuda kulit hitam menemuinya. Mereka ternyata punya kesamaan minat. Sang pemuda pun lalu berguru dengannya.

Bagian yang paling mengesankan dalam film ini adalah nasihat sang pemenang Pulitzer. "Pertama-tama, tulis konsep tulisan dengan hatimu, lalu tulis kembali dengan kepalamu. Faktor pertama dalam menulis adalah menulis, bukan berpikir," katanya.

"Mulailah menulis. Mulailah dengan halaman pertama. Seringkali irama ketikan datang dari halaman pertama ke halaman kedua. Waktu kau merasakan kata-katamu, mulailah mengetiknya," lanjut William.

Tampaknya, bila direnungkan, apa yang menjadi pesan dalam film ini juga berlaku dalam sisi kehidupan kita yang lain, bukan? Manusia dengan segala bidang yang digelutinya akan jadi mahir di bidangnya jika mereka mau memulai. Gagasan sehebat apapun akan tampak bodoh jikalau tidak ada yang memulainya. Nah, bagi kita yang selama ini kadang suka terlalu lama dalam merencanakan, mari kita mulai bertindak. Perenungan, bahkan konsep, teori dan metodologi itu penting. Dan akan sangat luar biasa bila hal-hal penting itu kita sikapi sesuai dengan kepentingannya: memampukan kita untuk memulai — segera memulai!

"Inspirasi tak datang dari perenungan yang berlama-lama, namun perenungan yang disertai tindakan untuk melangkah."

Menghidupi Tujuan dengan Rendah Hati

Saturday, October 13th, 2007

Beberapa buku membuat pembacanya bertingkah aneh. Beberapa buku membuat orang jadi pembunuh. Il Principe karangan Machiavelli dibaca beberapa pemimpin negara yang kemudian menjadi diktator-pembunuh. Namun, sebuah buku dengan genre serupa teenlit (cerita untuk remaja) ternyata juga mampu "menginspirasi" beberapa pembunuhan.

Itu adalah Catcher in the Rye, karya J.D. Sallinger, yang mengisahkan kehidupan remaja bernama Holden Caufield. Pembunuhan yang terkenal dilakukan Mark David Chapman pada John Lennon, vokalis The Beatles. Mark meminta John menandatangani buku itu suatu pagi. Tak lama kemudian, ia menembaknya. John Lennon tewas.

Holden dalam kisah ini adalah seorang remaja pemarah, yang tak pernah menyukai apapun dalam hidupnya. Segalanya sampah baginya. Ia dikeluarkan dari sekolah karena tak serius belajar, dan mudah berang pada siapapun yang ditemuinya.

Di buku ini sebenarnya sudah ada sebuah nasihat penting dari seorang guru Holden menjelang akhir kisah. Dinyatakan di sana, bahwa orang yang belum dewasa mau mati demi suatu tujuan, tapi orang yang sudah dewasa mau hidup dengan rendah hati untuk mencapai tujuan itu. Nasihat itulah yang menempelak Holden.

Cukup disayangkan nasihat ini tak direnungkan mendalam oleh para pembunuh-pembaca novel ini. Mereka hanya menyimak amarah demi amarah yang tertuang dalam hampir keseluruhan kisahnya. Nah, nasihat itu kini berpulang kepada kita: maukah kita hidup dengan rendah hati untuk mencapai sebuah tujuan? Semoga.

"Orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan hidupnya mengharamkan komitmen, dedikasi dan loyalitas, yang disertai integritas."