Archive for November, 2007

Nongkrong di Pasar Hongkong

Thursday, November 15th, 2007

Nostalgia. Mungkin itu adalah sesuatu yang dapat menghilangkan stres. Lagu-lagu nostalgia laris-manis. Film-film lama yang mengesankan berulang-ulang tayang di televisi dan dicari-cari. Begitu juga teman-teman lama. Teman-teman lama, dalam situasi tertentu, dapat pula mengusir penat.

Dari 8 hingga 20 Oktober 2007 saya berada di Kalbar. Selama di sana saya sempat bertemu beberapa teman lama di Singkawang, kota di mana saya dibesarkan dulu semasa TK hingga SLTP. Di suatu malam kami nongkrong di Pasar Hongkong, sebuah tempat ngumpul yang buka  dari jam sembilanan malam hingga subuh.

Berbagai kenangan lama yang sebelumnya hanya tersimpan di ingatan bawah sadar mencuat-cuat. Teman yang dulu pernah saya gebuki karena suka mengejek nama bapak saya tertawa-tawa tanpa beban. Teman yang mainannya pernah saya curi tak menunjukkan tanda-tanda mendendam. Puji Tuhan, saya meninggalkan Kalbar dalam keadaan di mana saya tak memiliki ganjalan berupa dendam terhadap semua teman saya. Jadi, semuanya menikmati nostalgia.

Setelah derai tawa kami surut, kopi-kopi yang kami minum habis, saya berpikir tentang hubungan antar manusia dengan segala pasang-surutnya. Kita semua sering mengalami konflik, namun baiklah kita sadari bahwa dengan siapapun kita mengalami konflik, marilah kita selalu memiliki hubungan yang tetap baik. Karena, ketika suatu saat bertemu lagi dengan teman lama, hubungan yang baik membuat nostalgia terasa manis.

Produktivitas dan Publisitas

Wednesday, November 14th, 2007

King_stephen Stephen King, penulis horor dan thriller tenar itu, saya dapati menyinggung soal produktivitas dan publisitas dalam dua bukunya. Buku pertama adalah memoarnya yang berjudul On Writing. Di sana ia berkisah pernah mengirimkan sebuah karya yang ditolak oleh sebuah majalah besar. Setelah punya cukup nama dengan menerbitkan beberapa karya lain, karya yang sama ia coba-coba kirim ke majalah yang sama. Eh, dimuat.

Buku lain yang saya dapati menyinggung hal yang sama adalah novelnya yang berjudul Bag of Bones. Di sini, tokoh utamanya, Michael Noonan, adalah seorang novelis yang diminta oleh sebuah penerbit untuk menerbitkan karyanya berkala. Nah, suatu ketika Michael kelimpungan merampungkan novel. Ia lalu mengirimkan novel usang yang sudah mendekam di laci selama 12 tahun dan belum diterbitkan! Diterima, dan bahkan karya itu dipuji penerbit!

Penulis muda mana pun saya rasa pernah stres dengan penolakan. Karena profesi penulis sedikit mendapatkan tekanan dan dukungan dari luar, tak sedikit penulis muda yang akhirnya putus asa dan mundur.

"Berkaryalah terus," kata Pramoedya Ananta Toer, sastrawan tenar itu, "dan jangan pikirkan karyamu kelak diterbitkan atau tidak." Pramoedya sendiri semasa hidupnya berpeluang kecil untuk mempublikasikan karyanya.

Bagi kita yang bukan penulis, baiknya juga belajar hal yang penting di sini bahwa produktivitas adalah sesuatu yang lebih utama dibandingkan publisitas. Yang terakhir kita dapatkan setelah memiliki yang pertama dalam kadar tinggi.

Rasa Bersalah yang Kepanjangan

Tuesday, November 6th, 2007

Dalam cerpennya berjudul Matinya Seorang Buruh Kecil, Anton Chekov menunjukkan betapa berbahayanya rasa hormat dan rasa bersalah yang berlebihan. Inilah yang terjadi pada Ivan Kreepikov.

Ivan bersin suatu ketika menonton opera musik lucu. Nah, sang jendaral ternyata terkena bersinnya yang muncrat. Kreepikov terus-terusan merasa bersalah. Dia berulang-ulang meminta maaf. Sudah disuruh pergi, dia datang lagi… dan lagi. Lebih dari lima kali ia meminta maaf untuk cipratan wahing-nya.

Hingga akhirnya, pada suatu ketika… Ivan mati. "Sesuatu bergejolak dalam perutnya…," demikian tulis Chekov, setelah Ivan minta maaf yang kesekian kali kepada sang jendral. Karena permohonan maafnya, ia dibentak keras oleh sang jendral. Mungkin, setelah itu, sang jendral menembak perutnya.

Pernahkah kita seperti Ivan? Cerpen-cerpen Chekov memang kebanyakan satir — sebagai ajang meledek pemegang kekuasaan yang korup nan bengis di masanya. Namun, dalam kasus Ivan, kematiannya juga disebabkan karena kebodohannya. Pernahkah kita seperti Ivan yang begitu takut kepada seseorang karena sebuah kesalahan?

Pernahkah kita merasa sebuah kesalahan terhadap seseorang begitu membebani hidup kita? Saat ini marilah kita bangkit dari rasa bersalah yang kepanjangan. Rasa bersalah itu perlu, namun setelah kita memohon ampun pada yang kita salahi, juga kepada Tuhan, habis perkara.

"Kesalahan yang tidak diampuni setelah diakui jangan dijadikan alasan kegelisahan; kuasa-Nya sanggup mengubah hati yang keras menjadi lembut."