Seni Menuturkan Sejarah
27.01.08, 13.10. Deretan angka yang berjajar di depan adalah angka yang akan kita lupakan dalam waktu tak lama setelah kita bangkit berdiri dari membaca tulisan ini. Ya, Anda benar: angka-angka itu adalah tanggal dan waktu kematian mantan presiden kita Soeharto.
Sejarah seringkali menjadi pelajaran yang membosankan para siswa. Siswa dijejali dengan nama tokoh, tempat dan tanggal suatu kejadian yang dianggap penting dalam suatu masa atau kurun waktu tertentu. Sejarah jadi tidak menarik. Membosankan. Bahkan, yang bosan mungkin termasuk gurunya.
Bulan Maret tahun lalu, dalam sebuah pertemuan yang diprakarsai Onghokham Institut dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, para guru Sejarah di Jakarta mulai menangkap gelagat siswa yang tak lagi menganggap penting mata pelajaran Sejarah. Pasalnya, mata pelajaran itu tak diujikan dalam Ujian Nasional. Namun, meskipun tak diujikan, semestinya tidak demikian gelagat yang dimunculkan, bukan? ***
Sejarah itu Penting
Nah, sadarkah kita bahwa sejarah itu penting? Mari, pertama-tama, kita renungkan bersama kenyataan ini.
Bung Karno menyatakan agar kita jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kita kenal dengan singkatannya: Jasmerah. Ya, sebuah bangsa dapat maju dan berkembang bila tak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama di masa lampau. Setiap kebohongan nantinya akan dibuktikan. Kebusukan cepat atau lambat akan tercium. Para penguasa di suatu bangsa dapat datang dan pergi, namun sejarahlah yang kelak akan memurnikan ketokohan hingga ideologi yang dibangun mereka — atau seseorang lain.
Sejarah akan menjadi penguji atas apa yang ditanam dan dibangun seseorang. Seperti kata Fotarisman Zaluchu dalam sebuah artikel: "Sejarah, lagi-lagi tidak dapat terus menerus berada di muka penuh kebohongan penguasa." Ia menguraikan bahwa setiap hal, terutama penguasa atau rezim, akan mengalami pemurnian-diri (self-purification) ketika dihadapkan dengan sejarah. Sejarah, yang di dalamnya memuat rekam-jejak perguliran waktu, akan menjadi hakim bagi setiap hal dalam kehidupan kita. Karenanya, mari kita sadari kenyataan besar ini: sejarah itu penting. ***
Tantangan bagi Pendidik
Bila orang menganggap bahwa sejarah itu membosankan, salah besar. Sejarah, ternyata bukan hanya dapat diajarkan dalam mata pelajaran Sejarah.
Ketika mengajarkan IPS untuk kelas 3 dengan materi pokok Pekerjaan di Masyarakat dan Pentingnya Semangat Kerja, saya menyiapkan beberapa kisah orang-orang yang berhasil dan gagal dalam pekerjaannya. Saya mengisahkan, di antaranya, Thomas Edison dengan segala ejekan yang diterimanya, bimbingan dan perhatian dari ibunya yang amat tabah, ketuliannya yang saya rasa justru disyukurinya untuk membuatnya abai terhadap segala cerca atas eksperimen-eksperimennya, hingga kebiasaannya memancing tanpa umpan untuk mencari inspirasi. Para murid tampaknya suka kisah ini!
Saya juga mengisahkan Lumiere bersaudara dari Prancis, dua orang yang tercatat sebagai penampil film pertama. Koran menolak membantu publikasi untuk karya perdana mereka, yang di kemudian hari justru amat menghebohkan dan menjadi tonggak lahir dan berkembangnya film.
Saya kaitkan Edison dan Lumiere dengan dunia pekerjaan. Saya tarik nilai-nilai positif dari semangat dan kerja keras mereka. Hasilnya mungkin tak tampak sekarang, namun paling tidak antusiasme yang tampak dalam pembelajaran bisa menjadi indikasi untuk kemungkinan pencapaian yang lebih besar, yang tidak terduga, dari kisah-kisah yang disampaikan itu.
Kita yang telah kelelahan dengan fakta, waktu, tempat, dan semua tetek-bengek itu, marilah kita merenung sejenak: apakah kisah yang menarik untuk diceritakan? Apakah kita hanya mengajar karena itu tugas kita, atau kita menyadari bahwa apa yang kita beri merupakan sebuah amal bagi kehidupan kita yang tak berpenghujung?
Syukurlah, kurikulum sekarang, KTSP, memberi ruang bagi kita untuk mengemas pembelajaran lebih independen. Kesempatan inilah yang semestinya menjadi ruang bagi kita untuk memberikan yang terbaik bagi para murid, seperti kata Winston Churchill: "Kita hidup dengan apa yang kita peroleh, namun kita memperoleh kehidupan dengan apa yang kita beri." Mari, berikanlah ilmu, inspirasi dan motivasi yang terbaik bagi murid-murid kita di zaman hidup yang serba susah ini. ***
Contoh-contoh Kegiatan Penarik Minat
Ketika ke perpustakaan untuk mencari bahan tulisan beberapa waktu lalu, seorang adik kelas saya waktu kuliah menanyakan pertanyaan yang tidak akan saya lupakan: "Lho kok ke perpus lagi, Mas? Kan skripsinya sudah selesai?" Nah, kita bisa mengukur seberapa besar minat baca seseorang dengan pertanyaan itu. Bagaimana dengan Anda? Masihkah Anda membaca? Masihkah Anda belajar?
Kita tak dapat menyuruh anak didik kita belajar sementara kita sendiri malas belajar. Semua pemimpin besar adalah pembaca yang serius. Jika Anda selama ini sudah puas dengan gaya, metode atau kegiatan pembelajaran Anda, baiklah kepuasan itu kita takar sejauh mana hasilnya: adakah perubahan yang signifikan? Selain dengan kisah-kisah inspirasional pelejit energi yang sudah saya sampaikan sekilas di atas, Thomas Armstrong, dalam bukunya Awakening Your Child’s Natural Genius menyarankan ada lima kegiatan yang dapat membangkitkan kecerdasan sejarah:
1. Pohon Keluarga
Ini bisa dibuat dengan menyertakan profesi, foto dan peran para generasi-generasi kita terdahulu dalam suatu peristiwa penting (perang kemerdekaan, misalnya).
2. Situs Sejarah
Ini sudah umum dilakukan: pergi ke tempat-tempat bersejarah.
3. Time Line atau Baris Waktu
Ini dapat dibuat dalam gulungan kertas panjang. Catat dan bagi-bagilah segmen waktu dalam gulungan itu. 500 tahun lalu, misalnya, apa yang terjadi? Berilah foto, keterangan, penemuan, apa pun yang bersejarah pada masa itu dalam tampilan yang semenarik mungkin.
4. Wawancara
Bila kita berkesempatan bertemu dengan tokoh yang melegenda karena karya dan pengabdiannya, coba wawancarai dan direkam suaranya, atau diambil gambarnya lewat handycam, putar atau tayangkan kembali dan diskusikan.
5. Simulasi Indra
Kegiatan ini amat merangsang historisasi (penyejarahan, atau penghayatan-pengalaman sejarah). Kegiatan ini bisa dilakukan lewat drama dengan mengenakan kostum, atribut, atau bahkan gaya bicara yang digunakan orang masa lalu. ***
Tugas guru Sejarah bisa dikatakan berat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan harus variatif; membaca dan belajar jadi wajib hukumnya. Namun, semua ini memang tantangan. Dan tugas yang berat ini berpulang kepada kita: maukah kita mengajar lebih baik?
Pada akhirnya, biarlah sejarah-sejarah yang kita tuturkan dapat dijadikan sebagai salah satu acuan para siswa dalam menapaki hidup: mercu suar kecil di tengah lautan kehidupan yang gulita dan berombak kalut. Ketika di masa kini mungkin sudah tidak ada lagi panutan bagi mereka dalam melangkah, setidak-tidaknya ada tokoh masa lalu yang bisa "berbicara" kepada mereka lewat guru-guru sejarah, Anda dan saya. ***