Archive for May, 2008

Pindah

Tuesday, May 27th, 2008

Karena beberapa alasan teknis, blog ini dipindah ke:

Catatan dan Renungan Malam

Isinya tetap sama, tentang refleksi edukasi dan kepenulisan.

~s.n~

Gelisah Memaknai Keindahan

Monday, May 12th, 2008

Uewb_04_img0223_1Tahun 1889, Prancis memperingati seabad revolusinya. Negara itu melaksanakan peresmian menara Eiffel. Di kaki menara metalik raksasa itu tampak beberapa gong perunggu dan gamelan Jawa. Seorang komponis muda berbakat terpana ketika mendengar suaranya dan di kemudian hari berkomentar: "Jika Anda mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, And
a harus mengakui bahwa musik kita tak lebih dari sekedar bunyi-bunyi dasar sirkus keliling." Komponis itu bernama Claude Debussy.

Terlepas dari kemampuan orang Barat yang tampak lebih lihai daripada kita dalam mengajarkan musik lewat partitur, penggolongan irama, bahkan tablatur untuk gitar, Debussy terkesan dengan "getaran keindahan suara itu sendiri." Suara itu beresonansi secara indah, membuatnya boyak terhadap harmonisasi nada-nada yang selama ini menjadi kekuatan dan pesona bagi musik-musik Barat. 

Debussy memadukan musik Barat dan gamelan, karena dirasanya gamelan adalah sebuah seni bernilai tinggi, sementara kita selama ini yang hidup "bersama gamelan" mungkin menganggap musik Barat bernilai lebih tinggi.

Debussy, dalam jiwanya yang gelisah, mencoba tafsirkan apa yang ia gapai dan tangkap dalam kepekaannya lewat karya yang sarat kombinasi. Belajar dari seniman ini, kita seolah diajak melihat bahwa keindahan ada di mana-mana. Memaknai keindahan, jiwa kita yang fana dan sementara ini kerap berubah-ubah selera. Musik adalah seni. Hidup adalah seni. Menghayati hidup bagai menghayati seni. Keduanya butuh kepekaan. (~s.n~)

"Poleslah kebijaksanaan Anda: pelajari kebijaksanaan umum, bedakan antara baik dan jahat, pelajari berbagai falsafah berbagai seni satu demi satu." (Miyamoto Musashi)

Selalu Ada “Tempat Lain”

Monday, May 12th, 2008

1344695786_e8a1846fd0_o_1
"Perlu ada upaya melihat,
upaya melihat dengan menjungkirbalikkan segala makna yang sudah ada,
untuk sampai pada yang tak dikenal,
hidup sejati yang berada di tempat lain …."

Sepenggal puisi di atas adalah karya Arthur Rimbaud. Tahun 1874, saat berusia dua puluh tahun, ia tergila-gila berkelana ke mana-mana, hingga ia akhirnya mati di Marseille pada 10 Oktober 1891.

Nah, dia pernah "nyasar" ke Indonesia!

Apa yang menyebabkan dia ke Indonesia hingga kini masih samar. Diduga, itu karena ia mendengar kisah-kisah tentang Hindia-Belanda waktu bekerja sebagai kuli di pelabuhan. Pada bulan Juli tahun 1876 ia sampai di Indonesia. Ia sempat ada di Jakarta dan di Salatiga. Berada di tangsi militer jiwanya gundah. Penyair ini tidak cocok. Ya, dia nyasar. Diam-diam ia meninggalkan Indonesia dan kembali ke negerinya, Prancis.

Puisinya di atas adalah sebentuk pemetaan dari realitas-demi-realitas tangkapannya hasil kelana-demi-kelana. Renungan memang jadi sangat luar biasa bila dipadu dengan kelana. Bahwa kebahagiaan-kesedihan yang berusaha kita gerapai suka-dukanya kadang terenungi keliru dan semrawut ketika dihadapkan dengan kelana.

Di dunia ini, akan selalu ada "tempat lain" (kutipan dari puisi yang ditulis Rimbaud di atas) untuk kita cari dalam rangka membentuk makna sebuah sisi kehidupan. Manusia selalu mencari dan tidak puas, sehingga baiklah kita menyadari sebuah keadaan penting: bahwa saat ini, di sini, ada sesuatu yang penting dan berharga untuk kita raih. Bahwa saat ini, di sini, ada sesuatu yang harus kita kerjakan dan beri perhatian untuk membuat hidup kita memiliki makna. (~s.n~)

"Kebijaksanaan datang sendiri melalui penderitaan." (Aeschylus)

Sabune Babu

Monday, May 5th, 2008

"Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari." (2 Korintus 4:16)   

Dosen saya yang lucu suatu ketika mengomentari sebuah merek sabun. "Iku sabune babu dulu… (Itu sabunnya babu dulu…)," katanya. Kalau tidak salah ini terjadi di matakuliah Studi Masyarakat Indonesia waktu saya kuliah empat-lima tahunan lalu.

Merek sabun yang ia sebut dan kami tertawakan sedang mengalami perubahan. Waktu itu, sabun itu, dengan model iklan yang baru, sedang mengubah citranya sebagai sabun elegan dari sabune babu. Kini bahkan modelnya berubah lagi. Ia aktris yang amat ternama. Iklannya terkesan glamor dan gencar ditayangkan. Sabune babu tampaknya kian populer, dan mungkin juga kian diminati.

Suatu ketika saya iseng-iseng beli sabun itu beberapa bulan lalu. Yang berubah hanya luarnya, alias bungkus sabunnya. Sabunnya sendiri, berikut wanginya, bentuknya — nyaris tetap: sabune babu.

Kontras dengan pemaparan dan lelucon di atas, Paulus mensyukuri kelemahan dan kemerosotan dalam dirinya. Walaupun kondisi tubuh yang membungkusnya tua, renta, terpenjara dan menderita, roh yang ada dalam dirinya selalu membara. 

Kehidupan kita, apakah mirip seperti sabun itu? Mungkin yang berubah hanya luarnya: kita tampak makin awet muda, lebih cantik/tampan, lebih segar dan berseri-seri. Kita rajin pergi ke salon, rajin olahraga, langganan berbagai jenis perawatan, dan lain-lain. Kelak, tubuh ini — yang hanya merupakan bungkus sementara dari diri kita yang sebenarnya — akan kita tinggalkan. Sudah saatnya kita memberi perhatian pada diri kita yang sebenarnya. (~s.n~)
   
"Kebijaksanaan mengacu pada pengupayaan pencapaian tujuan-tujuan yang paling baik dengan cara-cara terbaik." (Frances Hutcheson)