Archive for the ‘Edukasi’ Category

Siap Menang, Siap Kalah

Sunday, April 20th, 2008

Setelah mengajar, seringkali evaluasi atas pelajaran yang saya sampaikan, saya bungkus lewat kuis. Saya membagi anak-anak dalam beberapa kelompok, lalu beberapa babak kuis dilaksanakan: mulai dari tebak lagu dari nada-nada yang saya mainkan lewat gitar, tebak gambar yang dibuat oleh seorang siswa di papan tulis, atau cerdas cermat seputar materi yang telah disampaikan.

Anak-anak kecil seringkali tak siap kalah. Bahkan, orang besar juga. Makanya, tak jarang ada anak-anak yang menangis bila kelompoknya mendapatkan nilai yang kecil, atau terkecil, saat kuis digelar. Menyiasatinya, suatu ketika setelah mengajar saya menuliskan besar-besar di papan: "Siap Menang, Siap Kalah." Semua anak saya minta untuk mengucapkan empat kata itu keras-keras. Lalu, saya bertanya: "Siapa yang mau kuis hari ini?"

Hampir seluruh kelas mengangkat tangan. Ketika tangan-tangan mereka turun, saya bertanya lagi, "Bagaimana jika ada yang kalah?" Seisi kelas diam. Lalu saya tunjuk kata-kata di papan yang saya tulis. Anak-anak tersenyum. Kuis berjalan dengan lancar.

Manusia — besar atau kecil — semuanya sebenarnya menyukai tantangan. Seorang anak yang sering kalah saat kuis, bagi saya tampak selalu bersemangat dan terus mencoba menjawab dengan benar. Persoalannya hanya satu: kita tidak diajarkan untuk siap kalah. Kita berjuang, melakukan yang terbaik, belajar, karena merasa harus menang. Kita perlu siap kalah karena kita tak selalu menang. Kita harus siap kalah karena dunia ini kadang tidak berlaku adil kepada kita. (~s.n~)

"Seseorang yang belum pernah ditipu tidak dapat menjadi seorang pebisnis yang baik." (Peribahasa Cina)

Menjadi yang Terbaik karena Dibebaskan

Wednesday, April 16th, 2008

Pada tahun 2003, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengukur kecerdasan siswa-siswa sedunia dalam bidang sains, membaca, dan matematika. Hasilnya, Finlandia menjadi negara peringkat pertama. Keunggulan mereka bukan hanya dalam tiga hal itu, tapi juga pendidikan bagi anak-anak lemah mental.

Intinya, Finlandia adalah negara yang punya kemampuan hebat mencerdaskan anak-anaknya. Apa kuncinya?

Kualitas guru. Itulah jawabannya. Paling tidak, itulah salah satunya yang berperan besar. Profesi guru di Finlandia sangat dihargai walau tak bergaji fantastis. Saingan dan saringan untuk menjadi guru di sana cukup ketat, dan kemudian, setelah menjadi guru — ini dia: Mereka bebas menggunakan metode belajar apapun, bebas memakai kurikulum rancangan sendiri, bebas menentukan buku teks pilihan sendiri. Mereka menjadi yang terbaik karena dibebaskan.

Bebas atau kebebasan kerap dikonotasikan negatif. Sebutlah seks bebas, pergaulan bebas, atau bebas semau gue. Nah, sadarkah kita bahwa kebebasan yang kita miliki sebagai manusia adalah kebebasan untuk melakukan hal yang berharga dan mulia? Dosa, dalam kerangka berpikir ilahi — harus kita pahami sebagai ikatan. Dosa bukanlah ruang bagi kebebasan. Jadi, orang yang memiliki dasar dan pemahaman yang benar tentang kebebasan, akan menggunakan kebebasannya untuk menjadi yang terbaik. Nah, bagaimana dengan Anda? (~s.n~) 

"Saya belajar bahwa lingkungan mempengaruhi saya, tetapi saya harus bertanggung jawab atas semua yang saya lakukan." (Anonymous)

Seni Menuturkan Sejarah

Monday, February 25th, 2008

27.01.08, 13.10. Deretan angka yang berjajar di depan adalah angka yang akan kita lupakan dalam waktu tak lama setelah kita bangkit berdiri dari membaca tulisan ini. Ya, Anda benar: angka-angka itu adalah tanggal dan waktu kematian mantan presiden kita Soeharto.

Sejarah seringkali menjadi pelajaran yang membosankan para siswa. Siswa dijejali dengan nama tokoh, tempat dan tanggal suatu kejadian yang dianggap penting dalam suatu masa atau kurun waktu tertentu. Sejarah jadi tidak menarik. Membosankan. Bahkan, yang bosan mungkin termasuk gurunya.

Bulan Maret tahun lalu, dalam sebuah pertemuan yang diprakarsai Onghokham Institut dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, para guru Sejarah di Jakarta mulai menangkap gelagat siswa yang tak lagi menganggap penting mata pelajaran Sejarah. Pasalnya, mata pelajaran itu tak diujikan dalam Ujian Nasional. Namun, meskipun tak diujikan, semestinya tidak demikian gelagat yang dimunculkan, bukan? ***

Sejarah itu Penting

Nah, sadarkah kita bahwa sejarah itu penting? Mari, pertama-tama, kita renungkan bersama kenyataan ini.

Bung Karno menyatakan agar kita jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kita kenal dengan singkatannya: Jasmerah. Ya, sebuah bangsa dapat maju dan berkembang bila tak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama di masa lampau. Setiap kebohongan nantinya akan dibuktikan. Kebusukan cepat atau lambat akan tercium. Para penguasa di suatu bangsa dapat datang dan pergi, namun sejarahlah yang kelak akan memurnikan ketokohan hingga ideologi yang dibangun mereka — atau seseorang lain.

Sejarah akan menjadi penguji atas apa yang ditanam dan dibangun seseorang. Seperti kata Fotarisman Zaluchu dalam sebuah artikel: "Sejarah, lagi-lagi tidak dapat terus menerus berada di muka penuh kebohongan penguasa." Ia menguraikan bahwa setiap hal, terutama penguasa atau rezim, akan mengalami pemurnian-diri (self-purification) ketika dihadapkan dengan sejarah. Sejarah, yang di dalamnya memuat rekam-jejak perguliran waktu, akan menjadi hakim bagi setiap hal dalam kehidupan kita. Karenanya, mari kita sadari kenyataan besar ini: sejarah itu penting. ***

Tantangan bagi Pendidik

Bila orang menganggap bahwa sejarah itu membosankan, salah besar. Sejarah, ternyata bukan hanya dapat diajarkan dalam mata pelajaran Sejarah.

Ketika mengajarkan IPS untuk kelas 3 dengan materi pokok Pekerjaan di Masyarakat dan Pentingnya Semangat Kerja, saya menyiapkan beberapa kisah orang-orang yang berhasil dan gagal dalam pekerjaannya. Saya mengisahkan, di antaranya, Thomas Edison dengan segala ejekan yang diterimanya, bimbingan dan perhatian dari ibunya yang amat tabah, ketuliannya yang saya rasa justru disyukurinya untuk membuatnya abai terhadap segala cerca atas eksperimen-eksperimennya, hingga kebiasaannya memancing tanpa umpan untuk mencari inspirasi. Para murid tampaknya suka kisah ini!

Saya juga mengisahkan Lumiere bersaudara dari Prancis, dua orang yang tercatat sebagai penampil film pertama. Koran menolak membantu publikasi untuk karya perdana mereka, yang di kemudian hari justru amat menghebohkan dan menjadi tonggak lahir dan berkembangnya film.

Saya kaitkan Edison dan Lumiere dengan dunia pekerjaan. Saya tarik nilai-nilai positif dari semangat dan kerja keras mereka. Hasilnya mungkin tak tampak sekarang, namun paling tidak antusiasme yang tampak dalam pembelajaran bisa menjadi indikasi untuk kemungkinan pencapaian yang lebih besar, yang tidak terduga, dari kisah-kisah yang disampaikan itu.

Kita yang telah kelelahan dengan fakta, waktu, tempat, dan semua tetek-bengek itu, marilah kita merenung sejenak: apakah kisah yang menarik untuk diceritakan? Apakah kita hanya mengajar karena itu tugas kita, atau kita menyadari bahwa apa yang kita beri merupakan sebuah amal bagi kehidupan kita yang tak berpenghujung?

Syukurlah, kurikulum sekarang, KTSP, memberi ruang bagi kita untuk mengemas pembelajaran lebih independen. Kesempatan inilah yang semestinya menjadi ruang bagi kita untuk memberikan yang terbaik bagi para murid, seperti kata Winston Churchill: "Kita hidup dengan apa yang kita peroleh, namun kita memperoleh kehidupan dengan apa yang kita beri." Mari, berikanlah ilmu, inspirasi dan motivasi yang terbaik bagi murid-murid kita di zaman hidup yang serba susah ini. ***

Contoh-contoh Kegiatan Penarik Minat

Ketika ke perpustakaan untuk mencari bahan tulisan beberapa waktu lalu, seorang adik kelas saya waktu kuliah menanyakan pertanyaan yang tidak akan saya lupakan: "Lho kok ke perpus lagi, Mas? Kan skripsinya sudah selesai?" Nah, kita bisa mengukur seberapa besar minat baca seseorang dengan pertanyaan itu. Bagaimana dengan Anda? Masihkah Anda membaca? Masihkah Anda belajar?

Kita tak dapat menyuruh anak didik kita belajar sementara kita sendiri malas belajar. Semua pemimpin besar adalah pembaca yang serius. Jika Anda selama ini sudah puas dengan gaya, metode atau kegiatan pembelajaran Anda, baiklah kepuasan itu kita takar sejauh mana hasilnya: adakah perubahan yang signifikan? Selain dengan kisah-kisah inspirasional pelejit energi yang sudah saya sampaikan sekilas di atas, Thomas Armstrong, dalam bukunya Awakening Your Child’s Natural Genius menyarankan ada lima kegiatan yang dapat membangkitkan kecerdasan sejarah:

1. Pohon Keluarga

Ini bisa dibuat dengan menyertakan profesi, foto dan peran para generasi-generasi kita terdahulu dalam suatu peristiwa penting (perang kemerdekaan, misalnya).

2. Situs Sejarah

Ini sudah umum dilakukan: pergi ke tempat-tempat bersejarah.

3. Time Line atau Baris Waktu

Ini dapat dibuat dalam gulungan kertas panjang. Catat dan bagi-bagilah segmen waktu dalam gulungan itu. 500 tahun lalu, misalnya, apa yang terjadi? Berilah foto, keterangan, penemuan, apa pun yang bersejarah pada masa itu dalam tampilan yang semenarik mungkin.

4. Wawancara

Bila kita berkesempatan bertemu dengan tokoh yang melegenda karena karya dan pengabdiannya, coba wawancarai dan direkam suaranya, atau diambil gambarnya lewat handycam, putar atau tayangkan kembali dan diskusikan.

5. Simulasi Indra

Kegiatan ini amat merangsang historisasi (penyejarahan, atau penghayatan-pengalaman sejarah). Kegiatan ini bisa dilakukan lewat drama dengan mengenakan kostum, atribut, atau bahkan gaya bicara yang digunakan orang masa lalu. ***

Tugas guru Sejarah bisa dikatakan berat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan harus variatif; membaca dan belajar jadi wajib hukumnya. Namun, semua ini memang tantangan. Dan tugas yang berat ini berpulang kepada kita: maukah kita mengajar lebih baik?

Pada akhirnya, biarlah sejarah-sejarah yang kita tuturkan dapat dijadikan sebagai salah satu acuan para siswa dalam menapaki hidup: mercu suar kecil di tengah lautan kehidupan yang gulita dan berombak kalut. Ketika di masa kini mungkin sudah tidak ada lagi panutan bagi mereka dalam melangkah, setidak-tidaknya ada tokoh masa lalu yang bisa "berbicara" kepada mereka lewat guru-guru sejarah, Anda dan saya. ***

Mimpi-mimpi Saya

Tuesday, July 10th, 2007

"Aku punya mimpi hari ini…." (Martin Luther King, Jr.)

Merenungi apa yang sudah saya capai sejauh ini, saya tertegun. Tuhan luar biasa. Ia membuat apa yang saya impikan di tahun 2005 (: menjadi guru dan penulis) tercapai. Menyaksikan tulisan-tulisan saya menjadi berkat (walaupun masih amat sedikit); dan mengajar, juga bercanda, di tengah murid-murid saya yang kecil-kecil, bahagia rasanya. Indah rasanya hidup ini.

Sebelumnya, tahun 2004, saya pernah punya sebuah daftar mimpi-mimpi yang ingin saya raih hingga saya berusia 40 tahun. Namun suatu ketika saya membakarnya. Saya merasa tak sanggup mencapainya. Saya tidak tahu apakah ada orang yang lebih gila (selain saya) untuk bermimpi menciptakan lagu, membuat buku, menjadi guru, mendirikan sekolah, mendirikan panti asuhan, mendirikan usaha penerbitan, sekaligus menjadi sutradara/produser/penulis skenario film. Itu belum termasuk mimpi-mimpi yang saya tuliskan setelah saya berusia 40 tahun: kalau tak salah masih ada beberapa mimpi lagi yang saya tuliskan berkaitan dengan dunia pelayanan (rohani) dan bisnis.

Setelah membakarnya, impian itu perlahan-lahan mulai bergeser — juga berkurang. Antara tahun 2005-2006 saya membuat suatu pernyataan sederhana berawal dari mimpi di dalam hidup ini: "Aku akan menjadi guru dan penulis yang berkualitas. Aku terpanggil untuk mencerdaskan orang lain dan memberi sentuhan rohani yang bermakna bagi orang lain." Pernyataan itu saya sering ulang-ulangi selama beberapa bulan. Sampai akhirnya saya tak tahu kapan, pernyataan itu tak terulang-ulang lagi.

Kini, sambil melihat masa lalu dan mereka-reka masa depan, saya hendak kembali menjadi orang yang berani bermimpi. Saya ingin belajar berani menyatakan impian saya sekalipun dianggap sebelah mata oleh orang lain — bahkan oleh Anda. Saya tak malu sekalipun impian itu gagal dan akhirnya mengundang cercaan. Bahkan cercaan akibat dianggapnya mimpi-mimpi ini yang terlalu muluk pada diri saya sebelum mimpi-mimpi itu gagal atau berhasil, juga tak apa-apalah. Pun hidup hanya sekali, cercaan rasanya juga perlu diterima, daripada selalu dipuja-puji.

Pertama, saya bermimpi mengarang sebuah novel sejarah yang saya rasa cukup tebal. Paling sedikit 500 halaman (ketikan satu setengah spasi di halaman kertas kuarto). Saya akan memulainya akhir tahun ini. Novel ini akan saya karang selama 2-3 tahun dan nantinya akan saya ikutkan lagi di lomba penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta. Saya telah kalah tahun ini, dan saya akan tetap berjuang untuk kesempatan berikutnya (mungkin 3 tahun lagi). Kalah maneh yo wis, sak karepe dewan juri.

Kedua, saya bermimpi pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan saya. Bidang yang hendak saya ambil adalah pendidikan dan kepenulisan. Negara yang saya akan tuju adalah Prancis dan Amerika. Saya tidak tahu kapan akan pergi ke salah satu negara ini (lalu ke negara berikutnya), tapi firasat saya menyatakan dua atau tiga tahun lagi sejak sekarang.

Ketiga, saya bermimpi bisa menerbitkan dua hingga tiga buah buku setahun mulai tahun ini. Buku-buku ini sebagian besar adalah fiksi.

Keempat, saya bermimpi menulis beberapa buah lagu. Saya tidak tahu berapa buah lagu tepatnya — tak ada target khusus. Saya amat suka musik, dan tiada hari tanpa memetik gitar. Rasanya sayang kalau kemampuan bermusik ini tidak dipakai untuk mencipta.

Kelima, dan terakhir, saya bermimpi untuk mendirikan sekolah dan panti asuhan. Ini rasanya mimpi jangka panjang. Alasan utama keberadaan mimpi ini adalah meningkatnya jumlah anak jalanan dari tahun ke tahun. Selain itu, di desa-desa, pendidikan berkondisi amat parah! Sekolah dan panti asuhan saya itu kalau bisa menjadi satu kawasan. Di sana pendidikan dengan gratis diberikan, dan mata pelajaran di luar kurikulum nasional yang ditambahkan di dalamnya adalah "Semangat Hidup".

Demikianlah mimpi-mimpi saya. Saya bersyukur kalau apa yang saya jalani di masa ini adalah penggenapan mimpi-mimpi saya di masa lalu. Kepada Tuhan, yang telah menghadirkan mimpi-mimpi di benak saya (juga yang telah menjadikan sebagian darinya menjadi kenyataan), saya kembali bersujud sembah, untuk menyerahkan semuanya kepada-Nya. Terpujilah nama-Nya. Ialah yang patut disanjung atas semua keberhasilan yang mungkin akan tergapai — juga telah tergapai — berdasarkan mimpi-mimpi ini.

Haleluya.

~s.n~

***

Sumber Inspirasi (terima kasih):

1. Arie Saptaji, di website-nya (http://www.geocities.com/denmasmarto), ada link pribadi di bagian Bio bertajuk "Perjalanan Sebuah Impian", yang berisi impian-impiannya. Saya membacanya lebih dari lima kali.

2. Andrea Hirata, yang kini sedang bermimpi untuk tinggal di desa tertinggi di dunia, di dekat puncak Himalaya.

3. Film "Patch Adams" (dibintangi Robin Williams).

4. Film "Men of Honor" (dibintangi Robert De Niro dan Cuba Gooding, Jr.).

5. Wawan Eko Yulianto, lewat blognya: http://berbagi-mimpi.blogspot.com.

6. Gerry Candra, teman saya waktu SMP dulu, sang pemimpi yang pergi ke Paris (http://www.friendster.com/24534088).

Sejarah: Penting walau Kian Terisisih

Tuesday, March 6th, 2007

Mata pelajaran Sejarah tampaknya mulai dipandang remeh oleh para siswa SMA di Jakarta. Pasalnya, pelajaran ini tak turut diujikan dalam Ujian Nasional (UN). Begitulah yang terlapor di Kompas Kamis, 1 Maret 2007, sebagai hasil pertemuan guru-guru Sejarah beberapa SMA di Jakarta yang diprakarsai Onghokham Institute dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Secara logis UN mau tak mau tak mau membuat siswa menyusun prioritas. Bukan hanya Sejarah, pelajaran-pelajaran lain di luar yang diujikan dalam UN yang mengujikan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika, rasanya juga akan turut tersisihkan. Alih-alih menuding UN sebagai biang penyisihan, perlu juga dipertanyakan: pembelajaran Sejarah itu sendiri, selama ini, sudahkah segenap prosesnya benar-benar dianggap dan dijalankan dengan penghargaan yang semestinya oleh guru dan murid?

Pentingnya Sejarah

Sejarah adalah salah satu ilmu tertua. Para filsuf sebelum Masehi mempelajari Sejarah — yang kemudian diikuti Politik — setelah Astronomi dan ilmu-ilmu alam. Kata "sejarah" berasal dari kata Arab "šajaratun" yang artinya pohon. Pohon dalam konteks ini tertuang pada metodologi ilmu Sejarah ketika menjabarkan atau merekamkan sebuah riwayat, yang lazim disebut historiografi. Historiografi, yang awalnya hanya sebatas penulisan sejarah para raja, cakupannya kemudian berkembang luas hingga merambah ke tataran budaya, tradisi, kehidupan sosial atau ekonomi suatu masyarakat. Ini menyebabkan Sejarah kerap disebut sebagai ibu dari ilmu-ilmu sosial lainnya.

E.H. Carr, dalam bukunya bejudul "What is History" menyatakan bahwa sejarah adalah suatu dialog yang tidak berkesudahan antara masa sekarang dengan masa lampau. Pentingnya mendialogkan masa kini dan masa lalulah yang disadari benar oleh Bung Karno hingga beliau suatu ketika pernah berpesan agar rakyat jangan melupakan sejarah. Ya, kita akrab dengan singkatannya: "Jasmerah". Singkatan ini, pada mula ia dicetuskan, benar-benar meresap dalam lubuk nurani rakyat karena jiwa nasionalis yang masih kuat pada saat itu.

Sebuah bangsa dapat maju dan berkembang bila tak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama di masa lampau. Bahkan, dalam tataran individu sejarah memungkinkan seseorang untuk belajar dari orang-orang di masa silam saat baginya, di masa kini (mungkin) tak ada lagi orang yang bisa dijadikan pelajaran.

Peluang dan Tantangan Bagi Guru

Ketidakmunculan Sejarah dalam UN (hanya dalam Ujian Akhir Sekolah, atau UAS) tak lantas membuatnya kian tersisih. Hal ini semestinya justru membuat para guru Sejarah menyadari adanya kesempatan berharga yang dapat diberikan dalam proses belajar-mengajar. UAS yang sifatnya otonom akan memberi peluang besar bagi guru untuk memainkan perannya dalam penyampaian materi Sejarah di dalam kelas. Pembelajaran sejarah jadi lebih variatif dan inovatif: tak melulu menghapal nama kejadian, tempat, orang, tahun dan/atau peristiwa penting.

Pembelajaran Sejarah bisa jadi amat menarik karena dapat disampaikan dengan kegiatan-kegiatan kunjungan ke wilayah-wilayah bersejarah, atau museum, misalnya. Tak hanya itu, di dalam kelas pun Sejarah dapat menjadi pelajaran yang motivatif dan berpesan moral tinggi. Nilai-nilai penting yang dapat digali dari ulah seorang diktator — Hitler misalnya — dapat menjadi inspirasi berharga agar siswa tak suka menguasai orang lain. Siswa dapat diinspirasi agar tak mudah menyerah ketika dituturi kisah hidup Abraham Lincoln, misalnya.

Tentu, pembelajaran variatif nan inovatif tersebut menjadi milik para guru yang suka belajar. Guru dituntut untuk tahu dan menguasai lebih banyak, juga merenung lebih banyak. Guru tak lagi tampil sebagai orang yang lebih menguasai materi semalam lebih dulu daripada siswa. Guru yang mengeluhkan siswanya bosan mempelajari Sejarah juga perlu berkaca: apakah selama ini ia tak bosan dalam menggali pesona sejarah? Ketika menyadari hal ini, niscaya guru dapat memainkan perannya yang mulia menjadi sosok yang reflektif dan bijak dalam menjadi penerjemah sejarah di tengah-tengah generasi muda yang kian kehilangan arah.
 

Visi yang Sulit Membumi

Wednesday, February 7th, 2007

"Bila tidak ada wahyu maka liarlah rakyat." (Raja Sulaiman)

Wahyu yang tersebut di kutipan di atas dapat disamaartikan dengan visi. Visi adalah gambaran yang ada di dalam diri seseorang atau sekelompok orang tentang apa yang akan terjadi dan didapatkan di kemudian hari.

Tidak semua visi terjadi. Tidak semua mimpi menjemput kenyataannya. Di dalam pendidikan kita pun, visi yang terbangun di dalamnya masih sulit membumi. Di sana-sini yang terbangun hanya gagasan dan retorika: seputar Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), kebijakan soal tunjangan fungsional dan profesi, dan yang terakhir kurikulum. Yang terakhir ini ditargetkan pada tahun 2008 sudah terlaksana di sekolah-sekolah. Selain pesimis — karena targetnya setiap sekolah akan berotonomi dalam pembuatan kurikulum — siswa maupun guru banyak yang tak tahu dengan jelas kurikulum macam apa pula itu. Penyebutannya saja sampai sekarang masih rancu. Ada yang bilang KSTP (Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan); ada pula yang bilang KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Silahkan Anda gunakan mesin pencari di internet dan dua nama berbeda untuk kurikulum yang sama itu akan ditemui di berbagai media. 

Cyprianoes Aoer, wartawan pendidikan senior, di dalam bukunya "Masa Depan Pendidikan Nasional", di halaman 153 menyatakan "… pendidikan merupakan upaya-upaya untuk membantu anak menemukan dirinya dan mengembangkan segala kemampuan serta kreatifitasnya." Itu memang paralel dengan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diterapkan beberapa tahun silam (dan belum sepenuhnya). Bahkan pemikir-pemikir yang lebih senior, seperti Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun) dari Yogya, atau Paulo Freire dari Brasil, sama-sama menyepakati bahwa pendidikan merupakan usaha untuk mewujudkan realitas diri yang konkret dan bertitik tolak dari dalam diri siswa: kebutuhan mereka yang sifatnya dinamis. Upaya pemenuhan kebutuhan inilah yang pada gilirannya menjadikan pendidikan bersifat demokratis.

Freire dan Romo Mangun, yang adalah pemikir-pemikir pendidikan yang mendasarkan pemikirannya pada upaya pemenuhan pendidikan orang-orang dari kalangan rendahan di masa lalu, implikasinya masih relevan hingga sekarang. Wacana (berikut praktek) yang mereka bangun pas benar dengan kondisi pendidikan Indonesia yang masih morat-marit dan hanya berputar-putar di soal kurikulum dan beraneka kebijakan lainnya yang tersebut di atas. Tampaknya pendidikan, sama seperti saat mereka hidup, masih diadakan demi menjalankan fungsinya sebagai abdi penguasa, bukan berorientasi kepada kebutuhan rakyat.

Ganti menteri, ganti kebijakan. Itulah yang terjadi dalam pendidikan kita hingga saat ini. Kebijakan yang disusun, wacana yang dibangun, semuanya tampak bagus. Bambang Soedibyo, Mendiknas sekarang, menyatakan bahwa kebijakan pendidikan terbangun di atas tiga pilar yang penting: pemerataan serta perluasan akses pendidikan; peningkatan mutu dan daya saing keluaran pendidikan; dan penguatan akuntabilitas dan citra publik. Bagus, ketiga pilar itu bagus. Namun, berlangsungkah semua itu dalam kurun waktu yang panjang? Juga, dapat direalisasikankah hal-hal tersebut dalam jangka waktu yang pendek? Dua-duanya terjawab tidak.

Sedikit banyak kebijakan-kebijakan pendidikan ini terbangun oleh orang-orang yang mengaku dirinya pakar atau pemerhati pendidikan yang hendak bereksperimen dalam pendidikan. Layaknya ujicoba untuk menemukan sesuatu alat, pendidikan dijadikan ajang ujicoba untuk mencerdaskan bangsa. Namun, ujicoba tersebut tak berhasil. Pengujicoba-pengujicoba ini terlalu prematur untuk mengadakan ujicoba. Mereka tak terlatih, tapi tertatih-tatih. Hasilnya justru keterbelakangan. Sayangnya, mereka tetap terus mengadakan ujicoba. Mereka diakui sebagai ahli, pakar, pemerhati — atau apalah namanya — oleh para pengaku yang tidak tahu benar apa yang diakuinya.

Marilah kita menilik Jepang, yang pada beberapa dekade silam menerapkan sistem pendidikan tanpa pengawasan. Wacana ini begitu kuat, sehingga sekalipun tak termuat dalam kebijakan dan/atau konstitusi pada saat itu, prinsip ini menjalari warga Jepang dengan semangat untuk belajar, bereksperimen dan berkreasi. Hasilnya, Jepang maju seperti yang kita kenal sekarang. Tanpa banyak ba bi bu, tanpa perlu menjadi cangkeman dan mengiming-imingi rakyat dengan berbagai janji, tanpa mempersoalkan apa yang mereka bakal dapatkan dari sebuah pembelajaran, Jepang menjadi salah satu negara teratas dalam penguasaan ilmu pengetahuan.

Apa yang terjadi pada Jepang ini juga dipengaruhi oleh rakyatnya yang mau belajar dan tidak memble. Rakyatnya juga bersemangat. Rakyatnya mendisiplinkan diri mereka sendiri, melakukan beraneka pembelajaran, semata-mata bukan karena ingin mendapatkan taraf hidup yang lebih dari segi ekonomi. Tapi mereka menyadari bahwa membelajari dan menggali potensi diri itu penting. Dengan jalan itu kebijaksanaan mereka dapatkan sebagai bekal dalam hidup. Seperti yang tercetus dalam kata-kata Cicero ribuan tahun silam: “Tidak ada orang bodoh yang bahagia; tidak ada orang bijaksana yang tidak bahagia.” 

Semangat, itulah kuncinya. Pada diri setiap visioner terdapat semangat yang pada akhirnya menentukan perubahan di dalam sesuatu bidang. Pendidikan kita membutuhkan lebih dari sekedar beraneka wacana dan kebijakan yang dibangun dan dilaksanakan tanpa semangat untuk memperjuangkan pendidikan yang sesungguhnya. Semangat itu, pada akhirnya membuat pendidikan kita tak lagi tersengal-sengal dan mandek, tanpa kelanjutan dan hasil yang berarti.

Dari Maria Ozawa Hingga Maria Eva

Sunday, December 17th, 2006

"Banyak orang sangat memperhatikan apa yang mereka makan, tapi tak mempedulikan apa yang mereka tonton." (Derek Prince)

Beberapa warung internet di kota Malang banyak menyimpan file-file porno. Beberapa yang saya ketahui adalah Dinoyo Net (1 dan 2), Dieng Net, Level 99+, Extreme dan Pojok Net. Saya rasa ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan orang-orang yang menggunakan warung internet di kota Malang. Warung-warung internet ini dimasuki file-file porno hampir di setiap PC-nya karena memiliki fasilitas CD-RW (bahkan kini beberapa telah meningkat menjadi DVD-RW).

Ketika hendak menyimpan beberapa data yang — kalau tidak salah saya ambil dari IMDb — sekitar setahun lalu, saya kaget ketika menemukan begitu banyak film porno di folder-folder yang ada di hard-disk-nya. Jujur saja, saya membukanya juga. Yang paling hebat bagi saya adalah bintang porno asal Jepang yang bernama Miyabi. Nama aslinya Maria Ozawa. 

Maria Ozawa menurut saya cukup cantik untuk menjadi artis sinetron. Kelemahannya, bagi saya cuma satu, pada gigi seri di rahang atasnya — gigi seri terdepannya — yang salah satunya "melengse", kata orang Jawa (menggeser). Seluruh tubuhnya bisa dikatakan sempurna, tanpa saya harus menyebutkan bagian-bagian mana.

Saya tidak tahu persis latar belakang Maria Ozawa memutuskan menjadi bintang film porno. Tapi untuk menjadi seorang bintang iklan baik-baik, atau fotomodel, tampaknya ia bisa eksis di sana.

Belakangan ada Maria lain yang bernama Maria Eva, yang video singkatnya bersama salah satu anggota DPR, Yahya Zaini, menjalar dari ponsel ke ponsel. Maria Eva, diduga melakukan semua itu karena album-albumnya yang gagal beredar di pasaran. Roy Suryo menyatakan di televisi bahwa kemungkinan terbesar dari penyebaran video itu adalah kesengajaan yang dilakukan oleh pihak Maria Eva.

Saya menggeser kemunafikan saya ketika membahas hal ini. Mungkin beberapa orang menganggap saya suci selama ini dan tak pernah menonton hal-hal porno. Itu tidak benar. Saya telah menonton film-film seperti itu beberapa kali walau kini saya dengan sekuat tenaga mengabaikannya. Tapi, saya rasa tak perlu diceritakan apa yang kemudian saya lakukan setelah film-film porno itu saya tonton. Yang jelas, bukan sebuah rencana untuk menikahi salah satu dari mereka, terutama Maria Ozawa.

Soal integritas orang lain, kebejatan pejabat, tak saya bahas karena saya hendak berkaca pada diri saya sendiri. Saya menonton orang bersetubuh, saya onani. Dan banyak orang berpikir bahwa onani adalah tindakan yang lebih ringan kadar dosanya daripada zinah. Saya kadang bertanya-tanya: bila saya (Anda juga) bila punya uang lebih, tahu di mana mendapatkan wanita pemuas birahi, mungkin kita tidak hanya onani, tapi menyetubuhi wanita itu (mungkin dengan menggunakan kondom biar aman). Setelah itu kita akan merasa lega — dan sayangnya juga kadang merasa lebih baik — karena telah puas, dan tidak ada orang lain yang tahu perbuatan bejat apa yang telah kita lakukan. Kita bahkan dapat melakukan sesuatu yang lebih gila dan bejat dibandingkan apa yang dilakukan oleh dua Maria di atas, dan orang lain tetap dapat menganggap kita orang baik karena kita aktor sekelas Al Pacino, misalnya, yang pandai berakting. Yang berbahaya adalah apa yang terjadi kemudian: kita mengetahui bahwa kondisi jiwa kita kacau — karena anggapan orang selalu baik tentang kita sedangkan kita jahat — dan kita bisa menjadi Hannibal Lecter yang dicari-cari FBI dalam novel Thomas Harris. Ya, psikopat mengerikan!

Saya tidak lagi ingin menjatuhkan nama baik orang-orang di atas. Mereka sudah jatuh nama baiknya, untuk apa ditambah-tambahi lagi. Namun, yang sedikit ingin saya soroti adalah dua soal lain.

Pertama, pelajaran yang kita dapatkan dari mereka. Menurut hemat saya, tindakan yang mereka lakukan merupakan perpaduan antara keinginan untuk mencapai keterkenalan yang yang menempel pada ketidakpuasan atas keadaan yang mereka hadapi saat ini, ditambah lagi dengan kemalasan. Mereka menjadi seperti itu karena ingin mendapat uang lebih banyak, terkenal dan deminya… rela melakukan apa saja, hingga bersetubuh dan disaksikan orang sejagad.

Kedua, adalah untuk diri kita sendiri. Seorang pengajar Alkitab bernama Derek Prince pernah menyatakan bahwa kita harus berhati-hati dengan apa yang masuk ke dalam pikiran kita. Ia menambahkan bahwa begitu banyak orang sangat memperhatikan apa yang mereka makan, tapi tak mempedulikan apa yang mereka tonton. Pornografi merusak hidup yang baik, yang dipercayakan oleh Tuhan untuk kita jalani. Pornografi menyebabkan kita kecanduan, dan kecanduan itu berakibat buruk pada kesehatan jiwa kita.

Maria Ozawa, Maria Eva, dan semua Maria yang lain (entahlah dengan Maria Mercedes), di zaman kini dapat melayang-layang di benak kita dengan ketelanjangan dan persetubuhannya yang menggoda. Pilihan ada di kita: akankah kita membiarkan angan kita dipenuhi oleh mereka, atau justru mengambil pilihan untuk mengabaikannya?

Dari Singkawang Hingga Bangka Belitong (3-habis)

Monday, December 4th, 2006

Selama KKN sepeda motor saya kerap dinaiki 4 orang anak sekaligus — jadi lima dengan saya — pada sore hari ketika kegiatan KKN telah usai. Saya dipercaya menjadi Kordes (Koordinator Desa, mengetuai 18 teman saya yang ditempatkan sedesa dalam pengadaan dan pelaksanaan program-program KKN). Ketika malam hari, dengan para pemuda-pemudi desa dan beberapa orang tua kami membakar jagung di posko KKN sambil memandangi lampu-lampu berkelap-kelip di kota Malang. Lagu favorit untuk malam- malam itu adalah "Kemesraan" dan "Sri Minggat".

Saya juga berkesempatan mengajar di SD Negeri Gadingkulon selain berpidato beberapa kali di depan para aparat desa. (Asyik juga rasanya pidato di depan orang-orang tua yang selalu menganggap serius, mengangguk-angguk dan mengiyakan "apa kata mahasiswa".) Murid-murid di sana hanya bersepatu ketika berangkat dan pulang sekolah. Selama belajar sepatu dilepas dan diletakkan di luar kelas agar kelas tak kotor. "Sekolah jadi mirip sholat Jumat," kata teman saya bercanda — dia sendiri justru beragama Islam (jadi jangan pikir saya sedang mengolok orang Islam).

Selama dua bulan itu, April-Juni 2004, saya benar-benar merasakan banyak perubahan dalam cara memandang orang lain dan bagaimana memiliki hidup yang memiliki arti bagi orang lain. Masa-masa itu sampai sekarang masih membekas dan terbayang-bayang di malam hari sebelum tidur. Saya kerap membayangkan bagaimana jikalau saya berada di sebuah tempat di pedalaman Afrika — Kalahari, misalnya, dalam film "God Must be Crazy" — tentulah saya akan merasakan perubahan lain yang lebih besar.

Saya tidak sedang bicara tentang menjadi pahlawan saat ini. Saya sebenarnya kurang suka dengan istilah itu. "Pahlawan tanpa tanda jasa", "pahlawan lewat pena", atau apalah namanya, saya agak muak mendengarnya. Saya rasa ini alasannya: setiap orang yang mampu menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri, pada gilirannya akan menjadi pahlawan bagi orang lain. Istilah itu tak perlu dibesar-besarkan karena semua orang pada intinya adalah pahlawan, bahkan orang-orang yang tak berdaya sekalipun. Cuma kita kerapkali melupakan jati diri kita sebagai pahlawan sehingga kita memuja orang lain yang kita anggap pahlawan. Tak perlu memuja-muji orang lain (secara berlebihan), begitu pula diri sendiri. Tak perlu mengidap inferiority complex, atau menjadi narsis.

Akhirnya kuliah saya selesai. Maret 2006 saya diwisuda. Pekerjaan saya hingg kini ya menulis. Saya bukan penulis hebat yang karyanya selalu dimuat. Kalau dihitung-hitung, jumlah karya saya yang dikirimkan dibandingkan yang dimuat sangat jauh. Mungkin 6:1. Enam yang dikirim dan 1 di antaranya yang dimuat. Namun saya belajar untuk tak menyerah.

Karena berusaha menuruti nasehat Stephen King: penulis harus banyak membaca, saya banyak membaca selepas kuliah. Namun kebanyakan karya fiksi. Tiga seri "Lord of the Rings" plus "The Hobbit" saya habiskan sebulan. Beberapa karya Astrid Lindgren, Kate Di Camillo, Stephen King, Tolstoy, C.S.Lewis, ditambah sebuah karya John Grisham, Jhumpa Lahiri dan Harper Lee dalam enam bulan terakhir ini sudah saya baca. Namun, saya merasa masih ada yang kurang, selain kadangkala juga bosan bila terus-terusan membaca dan menulis fiksi.

Dan saya tahu kekurangan itu ketika membaca sebuah buku karya Andrea Hirata: "Laskar Pelangi" yang mengisahkan perjuangan anak-anak Bangka Belitong dalam menempuh pendidikan. (Saya juga telah membaca sekuelnya: "Sang Pemimpi".) Buku itulah yang seolah-olah menyalakan kembali minat saya terhadap pendidikan. Ya, pendidikan, itulah yang saya rasa perlu untuk saya perdalam. Andrea mengaku sempat menangis 3 kali ketika menuliskan karakter Lintang di dalam buku itu. Saya juga menangis ketika membacanya walau saya lupa berapa kali. (Keharuan dan kekaguman saya bukan hanya bangkit dari karakter Lintang, tapi keseluruhan kisah.)

Demikianlah, blog ini akhirnya saya buat untuk memetakan catatan-catatan reflektif seputar kepenulisan dan pendidikan. Minat saya di dalamnya dinyalakan oleh apa yang telah saya bentangkan sebelumnya. Namun ini semua bukan hanya soal minat. Sisi lain yang terutama adalah soal refleksi itu sendiri. Refleksi-refleksi yang tertuang berikutnya semoga menjadi penelusuran pada setiap nilai yang saya anggap penting untuk dikembangkan dari apa yang sedang dan telah saya pelajari lewat berbagai wacana, pengalaman, atau keadaan, dan pada gilirannya… semoga mendatangkan manfaat bagi yang berminat serupa untuk sama-sama berefleksi. (Tamat)

Dari Singkawang Hingga Bangka Belitong (2)

Wednesday, November 29th, 2006

Setelah tamat SMU tahun 1998 saya lolos UMPTN dan diterima di Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Selama 1 semester saya bertahan di sana. Semester berikutnya saya merasa bosan kuliah. Waktu SMU saya masuk di Jurusan IPA, dan orang tua saya berharap saya bisa masuk ke Jurusan Kedokteran setelah tamat SMU. Waktu itu persaingan UMPTN sangat ketat dan saya yakin kalau saya bakal kalah di Kedokteran.

Kemudian saya ikut UMPTN lagi pada tahun 1999. Selama kuliah di Pertanian saya jarang membaca buku-buku pertanian, lebih banyak filsafat atau psikologi. Akhirnya saya mengambil Jurusan Sejarah, yang saya rasa dekat dengan minat saya, karena Jurusan Filsafat dan Psikologi tak ada di Universtas Brawijaya atau Universitas Negeri Malang. Sebenarnya saya ingin mengambil kuliah di kota lain tapi orang tua saya ingin saya kuliah di Malang; mereka ingin bersama dengan saya karena semasa SMU saya ikut dengan nenek di Semarang.

Program yang saya ambil adalah pendidikan, bukan non-kependidikan. Selama setahun pertama saya cukup antusias kuliah. IP saya nomor dua tertinggi di kelas. Jiwa kepemimpinan mulai bangkit karena kerap dipercaya jadi ketua kelas dan pemimpin diskusi. Selama dua-tiga tahun berikutnya saya mulai sadar kalau memimpin dan berbicara di depan banyak orang ternyata mengasyikkan.

Di gereja saya juga terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan. Saya dipercaya untuk menjadi redaktur warta gereja, pemimpin kelompok sel dan bahkan koordinator tim musik. Di gereja juga saya mendapatkan seorang pacar yang sangat menyukai pendidikan. Dia bercita-cita menjadi guru sejak kecil. Sayangnya dia masuk Jurusan Akuntansi di salah satu universitas swasta di Malang setelah gagal UMPTN. Dia sendiri agak menyesal dengan pilihannya waktu itu.

Kami cukup dekat hampir setahun; setelah itu bubar karena alasan tak jelas. Selama dekat dengannya saya banyak belajar nilai-nilai tentang kasih sayang, pengorbanan, kedisiplinan dan kasih pada anak-anak kecil. (Di setiap hari Minggu dia mengumpulkan beberapa anak kecil yang jadi tetangganya dan mengajari mereka berbahasa Inggris gratis.) Saya masih ingat kalau dulu dia pernah saya pinjamkan buku tentang bagaimana mengelola kelas yang efektif dan dia sangat senang dengan buku itu. Masih banyak kenangan lain yang kami lalui bersama — yang tak terkait dengan pendidikan (sehingga tak perlu diceritakan).

Kegiatan gereja yang padat akhirnya membuat kuliah saya keteteran. Klise. Skripsi saya tak digarap-garap hingga akhirnya kuliah molor hingga 6 setengah tahun. Selama masa-masa "mempermolor" kuliah ini saya mulai aktif menulis. Itu terjadi karena sebuah lomba di bulan November 2002. Karya tulis saya yang pertama, sebuah cerpen anak-anak, menjadi pemenang ketiga dalam Pekan Ilmiah dan Sastra Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Dari situ kepercayaan diri saya bangkit. Saya menulis dan menulis. Hingga kini sejumlah tulisan saya dimuat di beberapa media massa nasional.

Pada masa-masa ini juga saya mulai sedikit menyimpang dari apa yang diajarkan di kelas-kelas kuliah. Saya berkenalan dengan Bill Wilson dan George Mueller lewat karya-karya atau kisah hidup mereka. Sangat patriotik. Mereka adalah para pendeta yang mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Bill Wilson adalah pendeta untuk kaum terbuang di Brooklyn yang mendirikan Metro Ministries dan memiliki program sekolah minggu luar biasa yang telah diadaptasi oleh banyak gereja di seluruh dunia. Bacalah bukunya "Whose Child is This?" ("Anak Siapakah Ini?") dan kita akan tahu bagaimana beratnya memperjuangkan edukasi pada orang-orang terlantar. George Mueller adalah bapak bagi para yatim piatu yang selama hidupnya telah membesarkan dan merawat anak asuh sebanyak lebih dari 9500 anak. Ia adalah pendoa yang tekun dan hidup sangat saleh.

Selain mereka berdua, saya sempat mempelajari sekilas hidup Mahatma Gandhi, David Livingstone dan Bunda Teresa. Saya juga membaca buku "Totto Chan" yang sangat luar biasa. Semua yang saya pernah baca dan pelajari itu akhirnya mendekati kenyataannya dalam hidup saya sendiri saat saya KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa Gadingkulon, sekitar 10 kilometer dari kota Malang.

Di desa Gadingkulon yang tak jauh dari kota Malang, mata saya mulai melek dengan apa yang saya pelajari. Seorang anak, bernama Edi Susanto, umurnya masih 7 tahun waktu itu, yang sedikit kekurangan kasih sayang, setiap hari tidur di samping saya di Posko KKN selama saya KKN. Beberapa anak lain juga kerap berkumpul bersama dengan saya tiap sore untuk bernyanyi bersama. Lagu favorit kami adalah "Oemar Bakri". (Bersambung)

Dari Singkawang Hingga Bangka Belitong (1)

Tuesday, November 21st, 2006

Ini adalah latar belakang tumbuh dan berkembangnya minat saya pada dunia pendidikan. Saya akan membaginya dalam dua atau tiga posting. Semula saya berencana meng-update blog ini bulan depan atau tahun depan. Tapi rasanya tangan gatal juga mengetik kalau sudah di depan komputer. Untuk keseluruhan posting berikutnya saya akan mengubah kata ganti aku menjadi saya. Alasannya mungkin sederhana saja: lebih enak didengar, menurut saya. Okay, here we go….

***

Saya dibesarkan di Kota Amoi, Singkawang. Dari TK hingga SMP saya berada di sana. Semasa berada di sana, ibu saya menjadi guru pada sebuah TK swasta, TK Flora. Karena di sana banyak sekali orang keturunan Tionghoa yang tak bisa berbahasa Indonesia, maka ibu saya cukup menguasai bahasa Kek yang dipergunakan orang-orang di sana — lain dengan bahasa Mandarin. Ibu saya kerap menggunakan bahasa Kek saat mengajar di kelas.

Saya tak bisa — tak cukup menguasai — bahasa itu karena saya bersekolah di mana bahasa Kek tidak terlalu kerap dipergunakan. Saya hanya bisa makian dalam bahasa Kek saja karena waktu kecil hingga remaja saya suka memaki-maki orang. Saya rasa tak perlulah makian-makian khas Kek ditulis di sini. Sekarang sudah tobat.

Pengabdian ibu saya pada dunia pendidikan, itulah pertama-tama yang menggugah minat saya. Kelihatannya dia tampak senang menjadi guru. Murid-muridnya, yang hampir semua bermata sipit, sangat menghormatinya. Tas ibu saya kerap dibawakan ketika masuk sekolah oleh anak didik, kehadirannya membuat beberapa anak menghambur sesaat dari kerumunan yang mereka buat sebelum bel masuk kelas berbunyi. Bahkan rasa hormat dari para orang tua murid cukup besar sehingga membuat saya berpikir: enak juga jadi guru.

Selain sekolah itu, saya juga menjadi anggota dari Gereja Protestan Kristus Mulia (GPKM). Saya menjadi ketua remaja di gereja itu. Kami beribadah di panti asuhan di samping-belakang Hotel Mahkota yang terkenal karena belum memiliki gedung sendiri. Kami diijinkan beribadah di sana karena beberapa majelis gereja juga menjadi pengurus yayasan yang mengelola panti itu.

Anak-anak panti asuhan itu memang tampak asing bagi kami, para warga gereja. Mereka rata-rata pemalu dan susah didekati. Hanya di dalam kesempatan seperti Natal atau Paskah kami beribadah bersama. Selain kedua momen itu, mereka beribadah di gerejanya masing-masing yang saya tak ketahui di mana saja. Saya hanya memperhatikan kehidupan mereka dari jauh. Kebanyakan dari mereka orang Dayak. Saya mendengar beberapa kisah tentang mereka yang kadang cukup memprihatinkan.

Tamat SMP saya memutuskan untuk melanjutkan SMA di Semarang. Pertimbangannya karena bapak saya yang menjadi pegawai di Badan Pertanahan Nasional sudah mengajukan pindah ke Jawa. Bapak saya memiliki 10 saudara dan kebanyakan saudara ingin agar bapak pindah ke Jawa agar dapat kembali bersama. Daripada pindah dan kemudian menyesuaikan lagi dengan suasana baru (menjadi murid baru) di Jawa, lebih baik saya mendahului, itulah yang saya pikirkan. Akhirnya pada tahun 1995 saya masuk ke SMU Negeri 6 Semarang dan tinggal bersama nenek saya, ibu dari ibu saya.

Selama SMU saya tak banyak tertarik dengan pendidikan. Saya menekuni hobi yang sejak SMP sudah saya kembangkan: bermusik. Saya mempunyai tiga grup band: 1) Flatus (tahu kan kalau artinya jorok; itulah nama cetusan anak-anak pemaki), grup band yang saya bentuk dengan teman-teman saya sekampung di Randusari, Semarang; 2) Visioner, grup band dengan teman-teman sekelas waktu kelas 2 SMU; dan 3) Neo-Six, grup band sekolah yang anggotanya diambil dari berbagai-bagai kelas lewat pemilihan yang selektif. Hampir setiap hari yang dikerjakan main gitar (walaupun menurut saya hingga kini saya masih tak lihai-lihai bermain). Ke studio musik bisa dua hingga tiga kali seminggu selain berlatih di studio sekolah yang peralatannya agak minim. Festival-festival kami ikuti, dan beberapa di antaranya kami jadi pemenang.

Dua tahun kemudian orang tua dan saudara-saudara saya menyusul pindah ke Jawa. Namun, bapak saya ditempatkan di Surabaya. Saudara kami (kakak ayah saya dan keluarganya) ada yang tinggal di Malang pada waktu itu, bahkan hingga kini. Karena salah satu rumah mereka tidak ditempati maka akhirnya kami mendiaminya. Lagipula, jarak Malang-Surabaya tak terlalu jauh dan setahu saya banyak pegawai yang bekerja di Surabaya dan bertempat tinggal di Malang. (Bersambung)