Archive for the ‘Kepenulisan’ Category

Selalu Ada “Tempat Lain”

Monday, May 12th, 2008

1344695786_e8a1846fd0_o_1
"Perlu ada upaya melihat,
upaya melihat dengan menjungkirbalikkan segala makna yang sudah ada,
untuk sampai pada yang tak dikenal,
hidup sejati yang berada di tempat lain …."

Sepenggal puisi di atas adalah karya Arthur Rimbaud. Tahun 1874, saat berusia dua puluh tahun, ia tergila-gila berkelana ke mana-mana, hingga ia akhirnya mati di Marseille pada 10 Oktober 1891.

Nah, dia pernah "nyasar" ke Indonesia!

Apa yang menyebabkan dia ke Indonesia hingga kini masih samar. Diduga, itu karena ia mendengar kisah-kisah tentang Hindia-Belanda waktu bekerja sebagai kuli di pelabuhan. Pada bulan Juli tahun 1876 ia sampai di Indonesia. Ia sempat ada di Jakarta dan di Salatiga. Berada di tangsi militer jiwanya gundah. Penyair ini tidak cocok. Ya, dia nyasar. Diam-diam ia meninggalkan Indonesia dan kembali ke negerinya, Prancis.

Puisinya di atas adalah sebentuk pemetaan dari realitas-demi-realitas tangkapannya hasil kelana-demi-kelana. Renungan memang jadi sangat luar biasa bila dipadu dengan kelana. Bahwa kebahagiaan-kesedihan yang berusaha kita gerapai suka-dukanya kadang terenungi keliru dan semrawut ketika dihadapkan dengan kelana.

Di dunia ini, akan selalu ada "tempat lain" (kutipan dari puisi yang ditulis Rimbaud di atas) untuk kita cari dalam rangka membentuk makna sebuah sisi kehidupan. Manusia selalu mencari dan tidak puas, sehingga baiklah kita menyadari sebuah keadaan penting: bahwa saat ini, di sini, ada sesuatu yang penting dan berharga untuk kita raih. Bahwa saat ini, di sini, ada sesuatu yang harus kita kerjakan dan beri perhatian untuk membuat hidup kita memiliki makna. (~s.n~)

"Kebijaksanaan datang sendiri melalui penderitaan." (Aeschylus)

Publish or Perish

Sunday, April 20th, 2008

Sekarang, dunia penerbitan-perbukuan tak seperti dulu. Lihatlah toko-toko buku. Orang-orang mudah menerbitkan buku, walau sebelumnya tak punya nama dan pengalaman akademis yang relevan dan memadai dalam dunia tulis-menulis. Zaman dulu, menerbitkan buku itu susah.

Gejolak ini adalah sinyal yang baik di satu sisi. Bangsa Indonesia jadi demokratis. Jauh sebelum Indonesia mengalami kemajuan ini, di Amerika telah ada tren atau slogan yang berbunyi "publish or perish" — "terbitkan atau mati". Saya mendapat slogan ini dalam buku Wishnubroto Widiarso berjudul Pengalaman Menulis Buku Nonfiksi. Publish or perish adalah slogan di kalangan ilmuwan di Amerika. Ilmuwan bisa menerbitkan buku karena menekuni benar apa yang dia geluti. Latar belakang ini, seharusnya menjadi cermin bagi para penulis kita: sudahkah ia menekuni benar apa yang ia tulis?

Sinyal yang buruk adalah semua orang berlomba-lomba untuk menerbitkan buku — tanpa penyaringan yang ketat, tanpa memikirkan manfaat buku yang ditulisnya, tanpa mempedulikan akibat isi bukunya, atau tanpa penggarapan yang serius.

Kehidupan kini telah menjadi serba-instan. Mi instan, minuman instan, segala yang instan, kita tahu seringkali tak sepenuhnya baik. Junk foods, begitu istilahnya — makanan sampah. Ada efek sampingnya, kata para pakar kesehatan. Begitu pula buku-buku instan. Karenanya, waspadai bacaan Anda, jangan sampai Anda membaca junk books — buku-buku sampah. (~s.n~)

"Kekuatan sebuah pohon terletak pada akarnya - bukan pada cabangnya." (Peribahasa Belanda)


Dua Cara Belajar-Berkarya

Wednesday, April 16th, 2008

Seorang teman saya, penulis fiksi, mempunyai impian untuk dapat Booker Prize, penghargaan yang amat bergengsi dalam dunia kepenulisan. Ia bukan seorang megalomania — bermimpi besar tanpa melakukan apa-apa. Ia sudah mengarang dua buku dan terus produktif. Nah, untuk mencapai impian itu ia mengungkapkan cara belajar-berkarya yang amat menarik untuk disimak.

Untuk semakin baik menulis, dia menyatakan membaca dua jenis buku. Jenis pertama adalah buku yang benar-benar bagus. Jenis kedua adalah buku yang buruk. Lho, kenapa yang jenis kedua juga dibaca? Nah, inilah poin pentingnya: bila karya buruk bisa diterbitkan, dibaca, hingga digemari, bukankah berarti semua karya mempunyai peluang diterbitkan?

Cara kedua yang disampaikan teman saya itu baik. Sebagai penulis, bila seseorang membaca karya-karya bagus terus, ia pasti akan frustasi: bahwa sampai mati pun mungkin ia tidak akan bisa menulis sebagus karya itu!

Saya tidak sedang mengajak Anda untuk menurunkan standar atau niat pencapaian Anda dengan mempelajari karya atau hasil usaha orang lain yang kita nilai buruk atau biasa-biasa saja. Dua cara belajar-berkarya ini, pada hakikatnya menunjukkan bahwa tiap manusia dikaruniai tingkat bakat yang berbeda-beda.

Hakikat hidup adalah berkarya. Dalam berkarya sering kita tidak sempurna, dan kemudian kecewa. Itulah yang harus kita tepis, seraya mencoba lebih dan lebih baik, dengan melihat karya-karya lain: yang lebih baik dan yang lebih buruk. (~s.n~)

"Seni menjadi bijaksana adalah tahu apa yang harus diabaikan." (Anonymous)

Ditolak Koran

Wednesday, January 2nd, 2008

LumiereSejarah film mencatat Lumiere bersaudara dari Prancis sebagai dua orang penting. Mereka tercatat sebagai penampil film pertama. Film pertama mereka saya yakin sama sekali tak menarik bagi kita saat ini. Mau tahu? Rekaman kereta api yang sedang berjalan. Nah, arah jalan kereta api itu mendekati kamera.

Namun, tahukah Anda apa yang terjadi pada 32 penonton pertama mereka ketika menyaksikannya? Mereka lari tunggang langgang dari gedung pertunjukan ketika kereta yang tertampil di film itu "mendekati" mereka! Bagi mereka, film kereta Lumiere saat itu benar-benar heboh.

Lumiere bersaudara kemudian meraup kekayaan. Penonton mereka setelah film kereta api pertama mereka rata-rata tak kurang dari seribu orang. Namun, sebelum mereka sesukses itu, mereka pernah ditolak koran ketika hendak promosi film kereta api pertama mereka. Koran menolak membantu publikasi pemutaran film mereka.

Ternyata, yang pernah ditolak koran bukan hanya para penulis. Sebagai penulis yang karyanya puluhan kali ditolak, saya geli sekaligus merenung ketika menjumpai kenyataan ini. Para penulis, pencipta lagu, pelukis, penemu, siapa saja dengan profesi apa saja, rasanya pernah mengalami apa yang Lumiere alami. Kita ditolak. Orang tak yakin akan apa yang kita yakini luar biasa.

Namun, baiklah kita tak menyerah. Jikalau apa yang kita perjuangkan selama ini benar-benar kita yakini sebagai sesuatu yang hebat, ingatlah ada Tuhan yang melihat jerih lelah kita, dan ada pula waktu yang menjadi penguji setia bagi setiap niat dalam perjuangan kita.

Produktivitas dan Publisitas

Wednesday, November 14th, 2007

King_stephen Stephen King, penulis horor dan thriller tenar itu, saya dapati menyinggung soal produktivitas dan publisitas dalam dua bukunya. Buku pertama adalah memoarnya yang berjudul On Writing. Di sana ia berkisah pernah mengirimkan sebuah karya yang ditolak oleh sebuah majalah besar. Setelah punya cukup nama dengan menerbitkan beberapa karya lain, karya yang sama ia coba-coba kirim ke majalah yang sama. Eh, dimuat.

Buku lain yang saya dapati menyinggung hal yang sama adalah novelnya yang berjudul Bag of Bones. Di sini, tokoh utamanya, Michael Noonan, adalah seorang novelis yang diminta oleh sebuah penerbit untuk menerbitkan karyanya berkala. Nah, suatu ketika Michael kelimpungan merampungkan novel. Ia lalu mengirimkan novel usang yang sudah mendekam di laci selama 12 tahun dan belum diterbitkan! Diterima, dan bahkan karya itu dipuji penerbit!

Penulis muda mana pun saya rasa pernah stres dengan penolakan. Karena profesi penulis sedikit mendapatkan tekanan dan dukungan dari luar, tak sedikit penulis muda yang akhirnya putus asa dan mundur.

"Berkaryalah terus," kata Pramoedya Ananta Toer, sastrawan tenar itu, "dan jangan pikirkan karyamu kelak diterbitkan atau tidak." Pramoedya sendiri semasa hidupnya berpeluang kecil untuk mempublikasikan karyanya.

Bagi kita yang bukan penulis, baiknya juga belajar hal yang penting di sini bahwa produktivitas adalah sesuatu yang lebih utama dibandingkan publisitas. Yang terakhir kita dapatkan setelah memiliki yang pertama dalam kadar tinggi.

Rasa Bersalah yang Kepanjangan

Tuesday, November 6th, 2007

Dalam cerpennya berjudul Matinya Seorang Buruh Kecil, Anton Chekov menunjukkan betapa berbahayanya rasa hormat dan rasa bersalah yang berlebihan. Inilah yang terjadi pada Ivan Kreepikov.

Ivan bersin suatu ketika menonton opera musik lucu. Nah, sang jendaral ternyata terkena bersinnya yang muncrat. Kreepikov terus-terusan merasa bersalah. Dia berulang-ulang meminta maaf. Sudah disuruh pergi, dia datang lagi… dan lagi. Lebih dari lima kali ia meminta maaf untuk cipratan wahing-nya.

Hingga akhirnya, pada suatu ketika… Ivan mati. "Sesuatu bergejolak dalam perutnya…," demikian tulis Chekov, setelah Ivan minta maaf yang kesekian kali kepada sang jendral. Karena permohonan maafnya, ia dibentak keras oleh sang jendral. Mungkin, setelah itu, sang jendral menembak perutnya.

Pernahkah kita seperti Ivan? Cerpen-cerpen Chekov memang kebanyakan satir — sebagai ajang meledek pemegang kekuasaan yang korup nan bengis di masanya. Namun, dalam kasus Ivan, kematiannya juga disebabkan karena kebodohannya. Pernahkah kita seperti Ivan yang begitu takut kepada seseorang karena sebuah kesalahan?

Pernahkah kita merasa sebuah kesalahan terhadap seseorang begitu membebani hidup kita? Saat ini marilah kita bangkit dari rasa bersalah yang kepanjangan. Rasa bersalah itu perlu, namun setelah kita memohon ampun pada yang kita salahi, juga kepada Tuhan, habis perkara.

"Kesalahan yang tidak diampuni setelah diakui jangan dijadikan alasan kegelisahan; kuasa-Nya sanggup mengubah hati yang keras menjadi lembut."

Segera Memulai!

Saturday, October 13th, 2007

Finding Forrester, sebuah film yang berawal dari kecintaan terhadap dunia perbukuan dan kepenulisan, mengajarkan kepada saya bagaimana caranya memulai sesuatu.

William Forreseter dalam film ini adalah seorang pemenang penghargaan sastra tertinggi di Amerika: Pulitzer. Namun, ia menghilang dan menyendiri setelahnya. Sampai suatu ketika seorang pemuda kulit hitam menemuinya. Mereka ternyata punya kesamaan minat. Sang pemuda pun lalu berguru dengannya.

Bagian yang paling mengesankan dalam film ini adalah nasihat sang pemenang Pulitzer. "Pertama-tama, tulis konsep tulisan dengan hatimu, lalu tulis kembali dengan kepalamu. Faktor pertama dalam menulis adalah menulis, bukan berpikir," katanya.

"Mulailah menulis. Mulailah dengan halaman pertama. Seringkali irama ketikan datang dari halaman pertama ke halaman kedua. Waktu kau merasakan kata-katamu, mulailah mengetiknya," lanjut William.

Tampaknya, bila direnungkan, apa yang menjadi pesan dalam film ini juga berlaku dalam sisi kehidupan kita yang lain, bukan? Manusia dengan segala bidang yang digelutinya akan jadi mahir di bidangnya jika mereka mau memulai. Gagasan sehebat apapun akan tampak bodoh jikalau tidak ada yang memulainya. Nah, bagi kita yang selama ini kadang suka terlalu lama dalam merencanakan, mari kita mulai bertindak. Perenungan, bahkan konsep, teori dan metodologi itu penting. Dan akan sangat luar biasa bila hal-hal penting itu kita sikapi sesuai dengan kepentingannya: memampukan kita untuk memulai — segera memulai!

"Inspirasi tak datang dari perenungan yang berlama-lama, namun perenungan yang disertai tindakan untuk melangkah."

Menghidupi Tujuan dengan Rendah Hati

Saturday, October 13th, 2007

Beberapa buku membuat pembacanya bertingkah aneh. Beberapa buku membuat orang jadi pembunuh. Il Principe karangan Machiavelli dibaca beberapa pemimpin negara yang kemudian menjadi diktator-pembunuh. Namun, sebuah buku dengan genre serupa teenlit (cerita untuk remaja) ternyata juga mampu "menginspirasi" beberapa pembunuhan.

Itu adalah Catcher in the Rye, karya J.D. Sallinger, yang mengisahkan kehidupan remaja bernama Holden Caufield. Pembunuhan yang terkenal dilakukan Mark David Chapman pada John Lennon, vokalis The Beatles. Mark meminta John menandatangani buku itu suatu pagi. Tak lama kemudian, ia menembaknya. John Lennon tewas.

Holden dalam kisah ini adalah seorang remaja pemarah, yang tak pernah menyukai apapun dalam hidupnya. Segalanya sampah baginya. Ia dikeluarkan dari sekolah karena tak serius belajar, dan mudah berang pada siapapun yang ditemuinya.

Di buku ini sebenarnya sudah ada sebuah nasihat penting dari seorang guru Holden menjelang akhir kisah. Dinyatakan di sana, bahwa orang yang belum dewasa mau mati demi suatu tujuan, tapi orang yang sudah dewasa mau hidup dengan rendah hati untuk mencapai tujuan itu. Nasihat itulah yang menempelak Holden.

Cukup disayangkan nasihat ini tak direnungkan mendalam oleh para pembunuh-pembaca novel ini. Mereka hanya menyimak amarah demi amarah yang tertuang dalam hampir keseluruhan kisahnya. Nah, nasihat itu kini berpulang kepada kita: maukah kita hidup dengan rendah hati untuk mencapai sebuah tujuan? Semoga.

"Orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan hidupnya mengharamkan komitmen, dedikasi dan loyalitas, yang disertai integritas."

Mimpi-mimpi Saya

Tuesday, July 10th, 2007

"Aku punya mimpi hari ini…." (Martin Luther King, Jr.)

Merenungi apa yang sudah saya capai sejauh ini, saya tertegun. Tuhan luar biasa. Ia membuat apa yang saya impikan di tahun 2005 (: menjadi guru dan penulis) tercapai. Menyaksikan tulisan-tulisan saya menjadi berkat (walaupun masih amat sedikit); dan mengajar, juga bercanda, di tengah murid-murid saya yang kecil-kecil, bahagia rasanya. Indah rasanya hidup ini.

Sebelumnya, tahun 2004, saya pernah punya sebuah daftar mimpi-mimpi yang ingin saya raih hingga saya berusia 40 tahun. Namun suatu ketika saya membakarnya. Saya merasa tak sanggup mencapainya. Saya tidak tahu apakah ada orang yang lebih gila (selain saya) untuk bermimpi menciptakan lagu, membuat buku, menjadi guru, mendirikan sekolah, mendirikan panti asuhan, mendirikan usaha penerbitan, sekaligus menjadi sutradara/produser/penulis skenario film. Itu belum termasuk mimpi-mimpi yang saya tuliskan setelah saya berusia 40 tahun: kalau tak salah masih ada beberapa mimpi lagi yang saya tuliskan berkaitan dengan dunia pelayanan (rohani) dan bisnis.

Setelah membakarnya, impian itu perlahan-lahan mulai bergeser — juga berkurang. Antara tahun 2005-2006 saya membuat suatu pernyataan sederhana berawal dari mimpi di dalam hidup ini: "Aku akan menjadi guru dan penulis yang berkualitas. Aku terpanggil untuk mencerdaskan orang lain dan memberi sentuhan rohani yang bermakna bagi orang lain." Pernyataan itu saya sering ulang-ulangi selama beberapa bulan. Sampai akhirnya saya tak tahu kapan, pernyataan itu tak terulang-ulang lagi.

Kini, sambil melihat masa lalu dan mereka-reka masa depan, saya hendak kembali menjadi orang yang berani bermimpi. Saya ingin belajar berani menyatakan impian saya sekalipun dianggap sebelah mata oleh orang lain — bahkan oleh Anda. Saya tak malu sekalipun impian itu gagal dan akhirnya mengundang cercaan. Bahkan cercaan akibat dianggapnya mimpi-mimpi ini yang terlalu muluk pada diri saya sebelum mimpi-mimpi itu gagal atau berhasil, juga tak apa-apalah. Pun hidup hanya sekali, cercaan rasanya juga perlu diterima, daripada selalu dipuja-puji.

Pertama, saya bermimpi mengarang sebuah novel sejarah yang saya rasa cukup tebal. Paling sedikit 500 halaman (ketikan satu setengah spasi di halaman kertas kuarto). Saya akan memulainya akhir tahun ini. Novel ini akan saya karang selama 2-3 tahun dan nantinya akan saya ikutkan lagi di lomba penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta. Saya telah kalah tahun ini, dan saya akan tetap berjuang untuk kesempatan berikutnya (mungkin 3 tahun lagi). Kalah maneh yo wis, sak karepe dewan juri.

Kedua, saya bermimpi pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan saya. Bidang yang hendak saya ambil adalah pendidikan dan kepenulisan. Negara yang saya akan tuju adalah Prancis dan Amerika. Saya tidak tahu kapan akan pergi ke salah satu negara ini (lalu ke negara berikutnya), tapi firasat saya menyatakan dua atau tiga tahun lagi sejak sekarang.

Ketiga, saya bermimpi bisa menerbitkan dua hingga tiga buah buku setahun mulai tahun ini. Buku-buku ini sebagian besar adalah fiksi.

Keempat, saya bermimpi menulis beberapa buah lagu. Saya tidak tahu berapa buah lagu tepatnya — tak ada target khusus. Saya amat suka musik, dan tiada hari tanpa memetik gitar. Rasanya sayang kalau kemampuan bermusik ini tidak dipakai untuk mencipta.

Kelima, dan terakhir, saya bermimpi untuk mendirikan sekolah dan panti asuhan. Ini rasanya mimpi jangka panjang. Alasan utama keberadaan mimpi ini adalah meningkatnya jumlah anak jalanan dari tahun ke tahun. Selain itu, di desa-desa, pendidikan berkondisi amat parah! Sekolah dan panti asuhan saya itu kalau bisa menjadi satu kawasan. Di sana pendidikan dengan gratis diberikan, dan mata pelajaran di luar kurikulum nasional yang ditambahkan di dalamnya adalah "Semangat Hidup".

Demikianlah mimpi-mimpi saya. Saya bersyukur kalau apa yang saya jalani di masa ini adalah penggenapan mimpi-mimpi saya di masa lalu. Kepada Tuhan, yang telah menghadirkan mimpi-mimpi di benak saya (juga yang telah menjadikan sebagian darinya menjadi kenyataan), saya kembali bersujud sembah, untuk menyerahkan semuanya kepada-Nya. Terpujilah nama-Nya. Ialah yang patut disanjung atas semua keberhasilan yang mungkin akan tergapai — juga telah tergapai — berdasarkan mimpi-mimpi ini.

Haleluya.

~s.n~

***

Sumber Inspirasi (terima kasih):

1. Arie Saptaji, di website-nya (http://www.geocities.com/denmasmarto), ada link pribadi di bagian Bio bertajuk "Perjalanan Sebuah Impian", yang berisi impian-impiannya. Saya membacanya lebih dari lima kali.

2. Andrea Hirata, yang kini sedang bermimpi untuk tinggal di desa tertinggi di dunia, di dekat puncak Himalaya.

3. Film "Patch Adams" (dibintangi Robin Williams).

4. Film "Men of Honor" (dibintangi Robert De Niro dan Cuba Gooding, Jr.).

5. Wawan Eko Yulianto, lewat blognya: http://berbagi-mimpi.blogspot.com.

6. Gerry Candra, teman saya waktu SMP dulu, sang pemimpi yang pergi ke Paris (http://www.friendster.com/24534088).

Blog Baru

Sunday, June 17th, 2007

Hidup tanpa melucu itu rasanya kelu.
Hidup tanpa
tawa bagai di neraka.
Mari melucu walau dianggap tak lucu.
Mari tertawa walau
tampak sedikit gila.

Saya punya blog baru. Isinya puisi-puisi dan cerita-cerita lucu. Puisi-puisi lucunya buatan saya sendiri. Cerita-cerita lucunya berasal dari yang pernah saya baca atau dengar (tapi yang saya anggap belum basi).

Nah, ingin menengok? Silahkan klik:

maritertawa.blogspot.com